Siapa sangka, di ujung timur Indonesia, tepatnya di Fakfak, Papua Barat, tersimpan kekayaan alam yang luar biasa? Sebuah buku direktori berjudul “Burung-burung dalam Tinjauan Budaya Mbaham Matta Fakfak” hadir sebagai jendela untuk melihat keindahan tersebut. Buku ini bukan hanya sekadar catatan tentang burung, tapi juga cerita tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat Fakfak.
Yuk, intip poin-poin penting dari artikel ini:
- 76 jenis burung endemik Fakfak berhasil didokumentasikan.
- Foto-foto eksklusif burung-burung yang menawan.
- Nama lokal burung dalam bahasa Iha dan Mbaham.
- Kaitan erat burung dengan budaya dan tradisi masyarakat Fakfak.
- Informasi penting tentang konservasi burung-burung langka ini.
Fakfak, Surga Tersembunyi di Papua Barat
Fakfak bukan sekadar nama di peta. Daerah ini punya sejarah panjang, bahkan sudah disebut dalam kitab Negarakertagama pada tahun 1365! Wilayah bernama Wwanin dan Sran, yang kini dikenal sebagai Onin, adalah bagian dari kerajaan Majapahit pada masa itu. Fakfak juga menyimpan kekayaan alam yang sangat berharga, salah satunya adalah berbagai jenis burung endemik.
76 Burung Cantik dari Hutan Fakfak
Sebanyak 76 jenis burung berhasil diabadikan dalam buku ini. Para fotografer dari Fakfak Birding berhasil menangkap momen-momen indah burung-burung tersebut di habitat aslinya. Setiap foto dilengkapi dengan nama nasional, nama lokal (dalam bahasa Iha dan Mbaham), serta nama latin. Ini penting banget, karena setiap suku di Fakfak punya nama dan cerita sendiri tentang burung-burung ini.
Kasuari Gelambir-Ganda: Raja Hutan Fakfak
Salah satu burung yang paling menarik perhatian adalah kasuari gelambir-ganda (Casuarius casuarius). Dalam bahasa Iha, burung ini disebut Swep (kasuari dewasa), ndramai, atau lulu (anakan kasuari). Sementara dalam bahasa Mbaham, namanya adalah srok atau mbrimed. Kasuari jantan dikenal sebagai pengasuh yang baik. Setelah bertelur, kasuari betina akan meninggalkan telurnya, dan kasuari jantanlah yang bertugas mengerami hingga menetaskan dan membesarkan anak-anaknya. Uniknya lagi, masyarakat setempat percaya bahwa kasuari bisa menjadi penunjuk jalan di hutan, tapi juga bisa membuat orang tersesat jika punya niat jahat.
Burung Lainnya: Delimukan, Pergam, dan Walik
Selain kasuari, ada juga burung-burung lain yang tak kalah menarik, seperti delimukan, pergam, dan walik. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Delimukan, misalnya, ada tiga jenis: delimukan tembaga, delimukan dewata, dan delimukan timur. Begitu juga dengan pergam dan walik. Keberagaman ini menunjukkan betapa kayanya alam Fakfak.
Tiong-Lampu Biasa dan Kucing Tutul: Mitos dan Fakta
Burung tiong-lampu biasa (Eurystomus orientalis) atau yang sering disebut tengkek buto, juga menjadi bagian dari buku ini. Dalam bahasa Iha, burung ini disebut katarombak, dan nggawaknggawak dalam bahasa Mbaha. Ada juga kucing tutul (Ailuroedus melanotis) yang dalam bahasa Iha disebut siksika dan mbrap dalam bahasa Mbaha. Suku Mbaha percaya bahwa burung ini tidak bisa dibunuh manusia. Jika ada yang berani membunuhnya, musibah akan datang. Ini adalah contoh bagaimana burung-burung di Fakfak terikat dengan kepercayaan dan mitos masyarakat setempat.
Konservasi dan Pelestarian
Buku ini bukan hanya tentang identifikasi burung, tapi juga tentang pentingnya konservasi. Banyak pertanyaan yang muncul setelah kita melihat keindahan burung-burung ini: bagaimana perjalanan migrasi mereka, berapa jumlah populasi mereka saat ini, dan bagaimana status kepunahannya? Buku ini diharapkan dapat membuka mata kita tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan keanekaragaman hayati di Fakfak, Papua Barat. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi bahan pembelajaran yang menarik bagi anak-anak dan orang dewasa.
Data Buku
- Judul: Burung-burung dalam Tinjauan Budaya Mbaham Matta, Fakfak
- Penerbit: Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan Konservasi Indonesia
- Halaman: 100 (foto disertai teks)
- Cetakan pertama: Oktober 2024
Yuk, kita jaga bersama keindahan alam Indonesia. Jangan biarkan burung-burung langka ini punah.




