Setelah keputusan Mahkamah Agung AS membatalkan Roe v. Wade, banyak yang mengira angka aborsi akan menurun drastis. Tapi, data terbaru malah menunjukkan hal yang sebaliknya. Bagaimana ini bisa terjadi? Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena yang mengejutkan ini.
- Angka aborsi sedikit meningkat setelah pembatalan Roe v. Wade.
- Pil aborsi semakin populer dan menjadi pusat perdebatan hukum.
- Perjalanan untuk aborsi meningkat karena banyak klinik yang tutup.
- Klinik baru mulai bermunculan di negara bagian yang melegalkan aborsi.
- Akses aborsi darurat masih menjadi masalah besar di beberapa rumah sakit.
- Isu aborsi tetap menjadi perhatian utama para pemilih.
Angka Aborsi Malah Naik? Kok Bisa?
Dua setengah tahun setelah Mahkamah Agung AS membatalkan Roe v. Wade, yang memberikan wewenang kepada negara bagian untuk melarang aborsi, ternyata angka aborsi tidak menurun. Faktanya, jumlah aborsi bulanan di seluruh negeri sedikit lebih tinggi dibandingkan sebelum keputusan tersebut. Ini sangat mengejutkan banyak pihak!
“Larangan aborsi tidak benar-benar mencegah aborsi terjadi,” kata Ushma Upadhyay, seorang ilmuwan sosial kesehatan masyarakat dari University of California San Francisco. Yang terjadi adalah perubahan cara orang mengakses layanan aborsi. Wanita di negara bagian yang melarang aborsi harus menghadapi hambatan besar, terutama wanita berpenghasilan rendah, minoritas, dan imigran.
Pil Aborsi: Pilihan Utama dan Pusat Perdebatan
Seiring dengan larangan aborsi yang diberlakukan, pil aborsi menjadi semakin populer. Sebelumnya, pil aborsi digunakan dalam sekitar setengah dari seluruh kasus aborsi, tapi sekarang angkanya mendekati dua pertiga. Bahkan, sekitar 1 dari 10 aborsi dilakukan dengan pil yang diresepkan melalui telehealth di negara bagian yang melarang aborsi.
Ini membuat pil aborsi menjadi pusat perdebatan hukum. Texas menuntut seorang dokter dari New York karena meresepkan pil aborsi melalui telemedicine. Beberapa negara bagian lain juga berusaha melarang peredaran pil aborsi dan mengklasifikasikannya sebagai zat berbahaya. Pemerintah federal juga didesak untuk menegakkan hukum abad ke-19 yang melarang pengiriman pil aborsi melalui pos.
Perjalanan untuk Aborsi: Realita Baru
Klinik aborsi di negara bagian yang melarang aborsi banyak yang tutup. Namun, muncul jaringan yang membantu wanita melakukan perjalanan ke negara bagian yang melegalkan aborsi. Contohnya, banyak penduduk Texas yang melakukan perjalanan ke New Mexico dan Kansas untuk melakukan aborsi. Dana aborsi juga membantu membiayai perjalanan dan biaya lainnya bagi mereka yang membutuhkan. Sayangnya, beberapa dana harus membatasi jumlah bantuan yang bisa mereka berikan karena peningkatan permintaan.
Peta Aborsi Terus Berubah
Sejak pembatalan Roe v. Wade, hukum dan keputusan pengadilan terus mengubah lanskap aborsi di AS. Larangan aborsi yang berlaku di Florida, negara bagian terpadat ketiga di AS, sangat berdampak. Florida yang sebelumnya menjadi tempat perlindungan bagi wanita yang mencari aborsi, kini menjadi negara bagian yang justru mengirim orang untuk mencari layanan aborsi di tempat lain.
Klinik Baru Bermunculan
Meskipun banyak klinik yang tutup di negara bagian dengan larangan aborsi, beberapa negara bagian yang melegalkan aborsi, seperti Illinois, Kansas, dan New Mexico, justru mengalami peningkatan jumlah klinik. Bahkan, beberapa rumah sakit yang sebelumnya sudah menyediakan layanan aborsi, mulai mengiklankannya secara terbuka.
Akses Aborsi Darurat: Ancaman Nyata
Bagaimana rumah sakit menangani komplikasi kehamilan, terutama yang mengancam jiwa wanita, menjadi masalah besar sejak pembatalan Roe v. Wade. Pemerintahan Biden mengatakan bahwa rumah sakit harus menawarkan aborsi jika diperlukan untuk mencegah kehilangan organ, pendarahan, atau infeksi yang mematikan, bahkan di negara bagian dengan larangan aborsi. Namun, kebijakan ini ditentang oleh Texas. Lebih dari 100 wanita hamil yang mencari bantuan di ruang gawat darurat ditolak atau dibiarkan dalam kondisi tidak stabil sejak 2022, menurut analisis The Associated Press.
Aborsi dan Pemilih
Sejak Roe v. Wade dibatalkan, ada 18 pertanyaan terkait hak reproduksi di tingkat negara bagian. Pendukung hak aborsi menang dalam 14 di antaranya dan kalah dalam 4 pertanyaan. Pada pemilihan 2024, mereka mengubah konstitusi di lima negara bagian untuk menambahkan hak aborsi. Data AP VoteCast menunjukkan bahwa lebih dari tiga perlima pemilih pada 2024 mendukung aborsi yang legal dalam semua atau sebagian besar kasus.
Jadi, meskipun ada upaya untuk membatasi akses aborsi, isu ini masih sangat relevan dan menjadi perhatian utama para pemilih di AS. Dan perjuangan mengenai hak aborsi masih jauh dari selesai.



