Serangan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 silam sempat mengguncang Amerika Serikat. Para pendukung Donald Trump menyerbu masuk, merusak fasilitas, dan mengancam para politisi. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Apakah kejadian itu masih membekas? Ternyata, jejaknya semakin pudar seiring waktu.
Artikel ini akan membahas:
- Bagaimana jejak kerusuhan 6 Januari mulai menghilang dari Gedung Capitol
- Mengapa banyak pihak berusaha melupakan atau mengecilkan peristiwa tersebut
- Upaya untuk mengenang kejadian itu melalui plakat peringatan yang tak kunjung terpasang
- Pergeseran narasi politik terkait peristiwa 6 Januari
Bekas Luka yang Terhapus
Jika Anda mengunjungi Gedung Capitol sekarang, Anda mungkin tidak akan menyangka bahwa tempat ini pernah menjadi lokasi kerusuhan yang mengerikan. Bekas-bekas kerusakan akibat serangan 6 Januari 2021 hampir tidak terlihat lagi. Dinding-dinding yang dulu penuh coretan dan bekas perusakan kini sudah diperbaiki. Jendela dan pintu yang pecah telah diganti. Tidak ada tanda peringatan atau plakat yang mengingatkan akan kejadian tersebut.
Mengapa Banyak yang Ingin Melupakan?
Banyak politisi, terutama dari Partai Republik, berusaha untuk mengecilkan atau bahkan melupakan peristiwa 6 Januari. Mereka menggemakan klaim Donald Trump bahwa kerusuhan itu dibesar-besarkan dan bahwa para perusuh adalah korban. Beberapa politisi bahkan menganggap bahwa Departemen Kehakiman menggunakan peristiwa itu untuk menargetkan para pendukung Trump secara tidak adil.
Senator Peter Welch dari Partai Demokrat mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh pemenang. Karena Trump kembali berkuasa, narasi yang berkembang adalah bahwa peristiwa 6 Januari hanyalah pertemuan damai, padahal kenyataannya tidak demikian.
Plakat Peringatan yang Tak Kunjung Terpasang
Padahal, Kongres telah mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan pemasangan plakat untuk menghormati para petugas polisi yang telah berjuang mempertahankan Gedung Capitol pada hari itu. Plakat tersebut seharusnya berisi nama-nama petugas dari Kepolisian Capitol AS, Kepolisian Metropolitan Distrik Columbia, serta aparat penegak hukum lainnya yang terlibat. Plakat tersebut seharusnya sudah dipasang sejak Maret 2022, tetapi hingga kini belum juga terwujud.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tidak jelas mengapa plakat tersebut belum dipasang. Juru bicara Arsitek Capitol mengarahkan pertanyaan kepada Sersan di Dewan Perwakilan Rakyat, yang tidak memberikan tanggapan. Pemimpin mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, dan pemimpin minoritas Senat saat itu dari Partai Republik, Mitch McConnell, sebenarnya telah menyetujui pemasangan plakat tersebut. Namun, Ketua DPR, Mike Johnson dari Partai Republik, tidak memberikan komentar apa pun terkait hal ini.
Pergeseran Narasi Politik
Awalnya, banyak politisi Republik yang mengecam serangan 6 Januari. Senator Lindsey Graham, salah satu sekutu utama Trump, bahkan mengatakan “Saya tidak ikut campur” pada malam kejadian. Pemimpin Partai Republik di DPR saat itu, Kevin McCarthy, mengatakan bahwa Trump “bertanggung jawab” atas serangan tersebut. Namun, sikap mereka berubah seiring waktu. McCarthy kemudian bertemu dengan Trump dan mendukungnya kembali.
Pardono bagi Para Perusuh?
Trump juga berjanji akan memberikan pengampunan kepada para perusuh 6 Januari jika ia terpilih kembali menjadi presiden. Hal ini semakin mengaburkan fakta bahwa serangan tersebut merupakan tindakan kekerasan terhadap demokrasi. Namun, beberapa sekutu Trump sendiri tidak setuju dengan rencana pengampunan tersebut, terutama bagi mereka yang melakukan kekerasan terhadap petugas polisi.
Pentingnya Mengingat Sejarah
Meski banyak yang ingin melupakan, beberapa politisi tetap berupaya untuk mengingat peristiwa 6 Januari. Senator Catherine Cortez Masto dari Partai Demokrat mengatakan bahwa ada dampak jangka panjang dari serangan tersebut, bahkan tanpa plakat peringatan. Misalnya, peningkatan keamanan pada sertifikasi pemilu tahun ini dan undangan Biden kepada Trump untuk datang ke Gedung Putih setelah pemilu.
Peristiwa 6 Januari juga telah mendorong Kongres untuk memperbarui Undang-Undang Penghitungan Elektoral, undang-undang yang mengatur sertifikasi pemilihan presiden. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya lagi upaya untuk membatalkan hasil pemilu.
Jangan Sampai Terulang
Perwakilan Jim McGovern dari Partai Demokrat mengingatkan bahwa jika kita tidak mau mengingat sejarah, ada risiko besar bahwa kejadian serupa akan terulang. Oleh karena itu, penting untuk tetap mengenang peristiwa 6 Januari, apa pun upaya untuk menghapusnya dari ingatan publik. Rep. Jim Himes, juga dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa meski banyak upaya untuk menulis ulang sejarah, ia percaya bahwa sejarah tidak akan dilupakan begitu saja.



