Siapa bilang tradisi itu membosankan? Biara Wenshu di Chengdu, Tiongkok, membuktikan sebaliknya! Mereka baru saja bagi-bagi 100.000 cup bubur Laba gratis. Bukan sekadar bagi-bagi, tapi ini adalah perayaan festival Laba yang sudah berumur ratusan tahun. Penasaran bagaimana kemeriahannya dan apa makna di balik tradisi ini? Yuk, kita bahas tuntas!
Poin-poin Penting Artikel Ini:
- Biara Wenshu bagikan 100.000 cup bubur Laba gratis selama 3 hari.
- Festival Laba dirayakan setiap tanggal 8 bulan ke-12 kalender China.
- Tradisi bagi-bagi bubur Laba sudah berlangsung lebih dari 300 tahun.
- Bubur Laba dibuat dari 14 bahan, termasuk kulit jeruk mandarin kering.
- Festival ini awalnya adalah ungkapan syukur atas hasil panen dan penghormatan leluhur.
Festival Laba: Tradisi Hangat di Tengah Dinginnya Musim
Festival Laba adalah perayaan tradisional Tiongkok yang jatuh pada tanggal 8 bulan ke-12 kalender China. Tahun ini, perayaan tersebut jatuh pada tanggal 7 Januari. Biara Wenshu di Chengdu, Provinsi Sichuan, sudah menjadi pusat perhatian setiap kali festival ini tiba. Bayangkan saja, mereka membagikan 100.000 cup bubur Laba yang baru dimasak kepada pengunjung selama tiga hari berturut-turut, dari tanggal 5 hingga 7 Januari!
Bubur Laba: Lebih dari Sekadar Makanan
Bubur Laba bukanlah bubur biasa. Dibuat dari 14 bahan istimewa, seperti kulit jeruk mandarin kering, kurma merah, biji coix, goji berry, dan beras hitam, bubur ini punya cita rasa unik dan kaya nutrisi. Konon, setiap bahan yang digunakan memiliki makna simbolis dan membawa berkah tersendiri.
Menurut Wang Chuanxi, seorang sukarelawan di Biara Wenshu, mereka bahkan mendirikan 324 titik distribusi bubur di seluruh Chengdu. Totalnya, 250.000 cup bubur Laba siap saji dibagikan dalam tiga hari! Wow, jumlah yang fantastis! Tidak hanya itu, biara ini juga mengirimkan 100.000 paket bahan bubur Laba gratis secara online ke seluruh negeri, serta paket besar yang cukup untuk memberi makan 20.000 orang ke panti jompo, sekolah, dan komunitas.
Sejarah dan Makna Mendalam Festival Laba
Festival Laba awalnya adalah hari untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan untuk melakukan pengorbanan kepada leluhur. Namun, dengan masuknya agama Buddha dari India ke China, festival ini juga mengambil makna penting untuk memperingati pencerahan Sakyamuni, pemimpin spiritual agama Buddha. Jadi, Festival Laba bukan sekadar perayaan biasa, tapi juga perayaan spiritual.
Biara Wenshu mengatakan bahwa Festival Laba adalah cerminan dari sifat inklusif dan beragamnya budaya Tiongkok. Dengan mengadakan acara ini, mereka berharap dapat mengintegrasikan festival tradisional ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, membawa kehangatan dan berkah di tengah kesibukan sehari-hari. Ini benar-benar cara yang indah untuk melestarikan tradisi sambil tetap relevan di era modern.
Peran Chengdu dalam Tradisi Laba
Tan Jihe, seorang peneliti terkemuka di Akademi Ilmu Sosial Sichuan, mengatakan bahwa wilayah Bashu (Sichuan dan Chongqing saat ini) telah memberikan kontribusi perintis pada Festival Laba dan bubur Laba. Sejak dinasti Qin dan Han (221 SM-220 M), sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga di wilayah ini untuk makan bubur pada hari Laba. Beliau juga menyoroti upaya Biara Wenshu dalam meneruskan tradisi Laba dengan cara yang inovatif, menggabungkan budaya Zen Buddha ke dalam kehidupan modern.
Jia Libin, direktur pusat perlindungan warisan budaya tak benda Chengdu, mengatakan rasa manis bubur Laba dan perayaan festival telah menumbuhkan rasa syukur, kebajikan, dan keharmonisan keluarga, serta membentuk memori kolektif dan identitas budaya bagi masyarakat Chengdu.
Kesimpulan
Festival Laba di Biara Wenshu bukan sekadar acara bagi-bagi bubur gratis. Ini adalah perayaan tradisi yang kaya makna, yang mengajarkan kita tentang syukur, kebersamaan, dan pelestarian budaya. Jika kamu sedang berada di Chengdu saat festival ini tiba, jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang menyelimuti kota ini. Pasti akan jadi pengalaman yang tak terlupakan!



