- Koalisi Merz menang tipis, hanya sekitar 29% suara.
- Pembentukan koalisi pemerintahan bisa memakan waktu berbulan-bulan.
- Ekonomi Jerman sedang krisis, dan pemerintahan baru belum terbentuk.
- Kebijakan luar negeri Jerman, terutama terkait Ukraina, juga jadi sorotan.
Merz Jadi Kanselir, Jerman Masih Bingung
Friedrich Merz akan menjadi kanselir Jerman selanjutnya. Tapi, jangan senang dulu! Dia sendiri belum tahu program pemerintahannya akan seperti apa. Koalisi konservatifnya hanya meraih sekitar 29% suara dalam pemilu dadakan hari Minggu kemarin. Artinya, masih butuh waktu berbulan-bulan untuk membentuk koalisi dengan satu atau dua partai lain.
Jerman, sebagai kekuatan utama Uni Eropa, akan tetap tanpa pemerintahan yang jelas di tengah situasi geopolitik yang panas. Apalagi, ekonomi mereka juga sedang memasuki tahun ketiga krisis.
Koalisi: Matematika yang Rumit
Berdasarkan hasil sementara, Merz hampir pasti membutuhkan SPD (partai Sosial Demokrat) dari kanselir sebelumnya, Olaf Scholz, untuk membentuk pemerintahan. Pertanyaannya, apakah dia perlu mengajak partai ketiga? Ini yang bikin negosiasi makin rumit.
Ada dua partai yang posisinya di ujung tanduk, hampir tidak lolos ambang batas parlemen (5% suara): FDP (partai liberal) dan BSW (partai sayap kiri). Kalau mereka lolos, mayoritas kursi di parlemen akan makin sulit diraih. Merz mungkin terpaksa mengajak Partai Hijau (yang dapat 12% suara) atau FDP.
Pajak: Kompromi yang Pahit
Kalau SPD jadi mitra juniornya, Merz harus mengalah soal rencana pemotongan pajak. Dia berjanji menurunkan pajak untuk perusahaan dari 30% menjadi 25%, dan mengurangi beban pajak untuk masyarakat. Sementara itu, SPD dan Partai Hijau ingin menaikkan pajak untuk orang kaya.
FDP, kalau ikut koalisi, mungkin akan ngotot minta pajak diturunkan – seperti yang mereka lakukan saat berkuasa dengan Scholz dulu. Mereka juga mungkin menolak reformasi “rem utang” Jerman, aturan ketat yang membatasi pinjaman pemerintah.
Politik: Persaingan yang Sengit
Negosiasi koalisi akan makin rumit karena munculnya partai-partai baru yang kuat di kedua sisi spektrum politik. AfD (partai anti-imigran sayap kanan), dengan sekitar 20% suara, tidak terlalu mengejutkan. Tapi, hasil bagus dari Die Linke (Partai Kiri), dengan 9% suara, menunjukkan bahwa banyak pemilih Jerman kecewa dengan partai-partai besar.
Ukraina dan Pertahanan: Titik Temu?
Merz sejak lama mendukung Ukraina, dan dia punya pandangan keras soal perlunya Eropa meningkatkan anggaran pertahanan dan bersatu melawan Rusia dan Amerika Serikat yang dianggap “tidak bersahabat”. Dia mungkin akan sejalan dengan Partai Hijau soal ini, meskipun dia mungkin perlu menekan SPD untuk menyetujui bantuan militer yang lebih besar untuk Kyiv.
Kesimpulan: Eropa Menunggu
Pembicaraan koalisi yang akan dipimpin Merz ini mungkin akan terasa seperti kampanye pemilu jilid dua. Semoga saja cepat selesai, demi kebaikan Eropa!
Info Tambahan: Sistem Pemilu Jerman
Sistem pemilu di Jerman cukup unik. Setiap pemilih punya dua suara:
- Suara pertama untuk memilih kandidat langsung di daerah pemilihan.
- Suara kedua untuk memilih partai politik.
Suara kedua inilah yang menentukan perolehan kursi partai di parlemen (Bundestag). Partai harus meraih minimal 5% suara nasional atau memenangkan minimal tiga kursi langsung untuk bisa masuk parlemen.


