Bonus Gagal Total di Citi: Contoh Buruk Cara Memotivasi Karyawan?

Citigroup (Citi), salah satu bank terbesar di Amerika Serikat, baru-baru ini jadi sorotan karena kebijakan bonusnya yang kontroversial. Alih-alih memberikan bonus berdasarkan kinerja, Citi justru memberikan ‘uang tambahan’ kepada eksekutif yang seharusnya bertanggung jawab memperbaiki masalah di bank tersebut. Bingung? Yuk, kita bahas lebih dalam!

Inti Artikel Ini:

  • Citi memberikan bonus kepada eksekutif untuk memperbaiki masalah internal, padahal itu tugas mereka.
  • Pembayaran bonus dipangkas jadi 68% dari target, tapi tetap saja itu bonus untuk ‘hampir tidak membuat kesalahan’.
  • Kebijakan ini memicu pertanyaan tentang efektivitas insentif dan akuntabilitas di sektor perbankan.

Bonus: Iming-Iming atau Kewajiban?

Di dunia perbankan, bonus sering dianggap sebagai alat untuk memotivasi karyawan agar bekerja lebih baik dan mencapai target. Tapi, apa jadinya kalau bonus diberikan hanya karena karyawan ‘hampir’ tidak melakukan kesalahan? Inilah yang terjadi di Citigroup.

Menurut laporan Reuters, Citi memberikan bonus kepada lebih dari 250 eksekutif sebagai bagian dari program ‘transformasi’ untuk memperbaiki masalah internal bank. Masalahnya, Citi sendiri mengakui bahwa mereka hanya mencapai 53% dari target yang ditetapkan. Jadi, kenapa bonus tetap diberikan?

Dari ‘Gagal Total’ Hingga ‘Lumayan’: Kenaikan Saham Selamatkan Bonus

Awalnya, bonus yang akan dibayarkan hanya 53% dari target. Tapi, angka ini kemudian dinaikkan menjadi 68% karena adanya kenaikan harga saham Citi dalam periode lima hari di bulan Februari. Kenaikan ini memang mengangkat sedikit kinerja Citi, tapi apakah cukup untuk membenarkan pemberian bonus?

Bayangkan, Anda diberi bonus karena ‘hampir’ tidak membuat kesalahan, dan bonus itu nilainya jutaan dolar! Tentu saja, hal ini memicu kritik dan pertanyaan tentang sistem insentif di Citi.

Kejadian Aneh: Transfer Rp 1.200 Kuadriliun

Selain masalah bonus, Citi juga pernah melakukan kesalahan fatal lainnya. Pada tahun 2024, mereka secara tidak sengaja mentransfer dana sebesar $81 triliun (sekitar Rp 1.200 kuadriliun) ke rekening klien! Jumlah ini setara dengan tiga perempat PDB dunia, menurut data Bank Dunia.

Kejadian ini menunjukkan bahwa masalah internal di Citi masih jauh dari selesai. Pemberian bonus kepada eksekutif, di tengah masalah yang belum teratasi, tentu saja menjadi ironi.

Jane Fraser dan Tanggung Jawab di Pundaknya

CEO Citigroup, Jane Fraser, mewarisi berbagai masalah kompleks saat menjabat pada tahun 2021. Meskipun tidak terlibat langsung dalam program bonus, Fraser bertanggung jawab penuh untuk memperbaiki kinerja Citi. Anehnya, kompensasi Fraser justru naik 33% menjadi $34,5 juta, di tengah masalah yang terus menghantui bank tersebut.

Saatnya Konsekuensi, Bukan Sekadar Insentif

Kebijakan bonus di Citi menunjukkan bahwa insentif saja tidak cukup untuk mendorong kinerja yang baik. Mungkin sudah saatnya bagi Citi (dan perusahaan lain) untuk mempertimbangkan sistem yang lebih menekankan pada konsekuensi atas kegagalan, bukan hanya iming-iming bonus.

Seperti kata pepatah, ‘Tong kosong nyaring bunyinya’. Bonus besar tanpa hasil yang signifikan, hanya akan menjadi bumerang bagi reputasi perusahaan.

About The Author

Putri Siregar

Putri adalah lulusan Sarjana Ilmu Media dari Universitas Brawijaya Malang. Ia sangat tertarik pada tren mode, musik, dan film, dan senang berbagi pengetahuannya. Putri juga seorang ilustrator berbakat dan sering menyertakan ilustrasi karyanya dalam artikelnya. Ia adalah penggemar film dan konser. Saat ini, Putri juga menulis artikel freelance untuk Mega Kancah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top