Kabar mengejutkan datang dari Gaza! Ribuan warga Palestina berani melakukan aksi protes terbuka terhadap Hamas, kelompok yang selama ini berkuasa. Aksi ini menjadi sorotan karena kritik terhadap Hamas jarang terjadi di wilayah tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi?
Berikut poin-poin penting yang perlu kamu tahu:
- Warga Gaza melakukan aksi protes anti-perang yang juga menyuarakan kritik terhadap Hamas.
- Protes ini dipicu oleh kondisi kehidupan yang semakin sulit akibat perang berkepanjangan dengan Israel.
- Hamas, yang biasanya menindak keras perbedaan pendapat, kali ini tampak menahan diri.
- Aksi ini menunjukkan meningkatnya frustrasi warga terhadap semua pihak yang terlibat dalam konflik.
Gaza Bergejolak: Warga Berani Lawan Hamas!
Ribuan warga Palestina turun ke jalan di Gaza, bukan hanya untuk memprotes perang yang menghancurkan wilayah mereka, tetapi juga untuk menyuarakan kemarahan terhadap Hamas. Ini adalah pemandangan yang tak biasa, mengingat Hamas selama ini dikenal sebagai kelompok yang tak segan menindak perbedaan pendapat.
Kenapa Warga Gaza Berani Melawan?
Kondisi di Gaza memang sudah sangat memprihatinkan. Perang yang tak kunjung usai dengan Israel telah membuat kehidupan warga semakin sulit. Banyak yang kehilangan rumah, keluarga, dan mata pencaharian. Frustrasi pun memuncak.
“Anak-anak kami terbunuh. Rumah-rumah kami hancur,” ujar Abed Radwan, seorang peserta aksi protes di Beit Lahiya, seperti dikutip dari AP News. “Kami menentang perang, menentang Hamas, dan faksi-faksi (politik) Palestina, menentang Israel dan menentang diamnya dunia.”
“Rakyat Ingin Hamas Jatuh!”
Di Beit Lahiya, sekitar 3.000 orang berdemonstrasi, meneriakkan slogan-slogan seperti “Rakyat ingin Hamas jatuh!” Sementara itu, di lingkungan Shijaiyah, Kota Gaza, puluhan pria meneriakkan “Keluar, keluar, keluar! Hamas keluar!”
Hamas Terdiam?
Biasanya, Hamas akan bertindak tegas terhadap aksi protes semacam ini. Namun, kali ini, mereka tampak menahan diri. Mengapa? Mungkin karena Hamas sedang berusaha meredam tensi, apalagi Israel telah kembali melancarkan serangan ke Gaza.
Bassem Naim, seorang pejabat senior Hamas, menulis di Facebook bahwa rakyat memiliki hak untuk berprotes, tetapi fokus mereka seharusnya pada “agresor kriminal,” yaitu Israel.
Bukan Cuma Soal Politik
Para tokoh masyarakat dari Beit Lahiya menyatakan dukungan untuk aksi protes tersebut. Mereka menegaskan bahwa aksi ini bukan soal politik, melainkan soal kehidupan warga.
“Protes ini bukan tentang politik. Ini tentang kehidupan orang-orang,” kata Mohammed Abu Saker, seorang ayah tiga anak dari Beit Hanoun. “Kami ingin menghentikan pembunuhan dan pengungsian, berapa pun harganya. Kami tidak bisa menghentikan Israel membunuh kami, tetapi kami bisa menekan Hamas untuk memberikan konsesi.”
Kekecewaan Mendalam
Seorang demonstran di Jabaliya, yang berbicara dengan syarat anonim karena takut akan pembalasan, mengatakan bahwa mereka bergabung dengan demonstrasi karena “semua orang telah mengecewakan kami.” Mereka meneriakkan slogan-slogan menentang Israel, Hamas, Otoritas Palestina yang didukung Barat, dan mediator Arab.
Serangan Israel Makin Brutal
Aksi protes ini terjadi setelah Israel mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas dan melancarkan gelombang serangan yang menewaskan ratusan orang. Israel juga menghentikan pengiriman makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Israel bersumpah untuk meningkatkan perang sampai Hamas membebaskan sandera yang masih mereka tahan. Israel juga menuntut agar Hamas menyerahkan kekuasaan, melucuti senjata, dan mengirim para pemimpinnya ke pengasingan.
Kapan Semua Ini Berakhir?
Perang ini dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyandera 251 orang. Serangan balasan Israel telah menewaskan lebih dari 50.000 orang di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Hamas memenangkan pemilihan Palestina terakhir pada tahun 2006. Mereka merebut kekuasaan di Gaza dari Otoritas Palestina pada tahun berikutnya setelah berbulan-bulan kerusuhan dan pertempuran jalanan.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa baik Otoritas Palestina maupun Hamas menekan perbedaan pendapat dengan kekerasan, membungkam protes dan memenjarakan serta menyiksa para kritikus.


