Ngeri! Awal Mula Wanita Ini Kena Penyakit Ginjal, Urine Jadi Petunjuk!

Ngeri! Awal Mula Wanita Ini Kena Penyakit Ginjal, Urine Jadi Petunjuk!

Penyakit ginjal kronis bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia atau gaya hidup. Kisah Hafsa Begum, seorang ibu tiga anak, menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mengenali gejala penyakit ginjal sejak dini. Artikel ini akan membahas perjalanan Hafsa melawan penyakit ginjalnya, gejala yang perlu diwaspadai, dan harapan untuk hidup yang lebih baik melalui transplantasi.

Yuk, simak poin-poin pentingnya:

  • Gejala Awal: Hafsa menemukan darah dalam urinenya, yang menjadi awal mula diagnosis penyakit ginjal kronis.
  • Perjuangan Dialisis: Hafsa harus menjalani dialisis tiga kali seminggu, yang sangat memengaruhi kualitas hidupnya.
  • Harapan Transplantasi: Transplantasi ginjal menjadi satu-satunya harapan Hafsa untuk bisa kembali hidup normal.
  • Pentingnya Kesadaran: Kurangnya kesadaran tentang donor organ menjadi masalah utama, terutama di kalangan etnis tertentu.

Awal Mula yang Mengejutkan: Darah dalam Urine

Hafsa Begum, seorang ibu tiga anak asal Bradford, Inggris, harus berjuang melawan penyakit ginjal kronis. Semuanya berawal ketika ia menemukan ada darah dalam urinenya pada Mei 2023. Ia pun segera memeriksakan diri ke dokter.

Sebelumnya, Hafsa menjalani hidup yang aktif dan sehat bersama keluarganya. Namun, gejala yang muncul tiba-tiba membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama dua bulan. Dokter mendiagnosisnya mengalami trombosis ginjal, yaitu pembekuan darah di pembuluh darah ginjal.

Pentingnya Deteksi Dini: Jangan Abaikan Gejala!

“Jika saya tidak segera memeriksakan diri, gumpalan darah ini bisa menyerang otak, paru-paru, atau jantung. Untungnya, saya mengenali gejalanya lebih awal,” ujar Hafsa, yang berprofesi sebagai perawat.

Hafsa pertama kali merasakan gejala saat bekerja. Selain darah dalam urine, ia juga mengalami nyeri di bagian samping tubuh dan jantung berdebar-debar. Ia pun menyarankan agar kita tidak mengabaikan gejala yang muncul.

“Sering kali kita mencari alasan untuk mengabaikan gejala. Padahal, penting untuk mendengarkan tubuh kita. Darah dalam urine saya memang terlihat jelas, tetapi tidak semua penderita penyakit ginjal mengalaminya. Kadang perubahan terjadi secara halus,” jelasnya.

Perjalanan Panjang Melawan Penyakit Ginjal Kronis

Setelah menjalani berbagai tes dan biopsi, dokter menemukan bahwa Hafsa mengalami trombosis ginjal. Kondisi ini menyebabkan cedera ginjal akut (AKI), yaitu hilangnya fungsi ginjal yang bersifat sementara. Setelah perawatan, fungsi ginjalnya sempat stabil di angka 19%.

Namun, pada awal 2024, kondisinya kembali memburuk. Mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan menjadi tanda bahwa Hafsa mengalami penyakit ginjal kronis. Pada Maret 2024, ginjalnya benar-benar gagal berfungsi dan dialisis menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Tahukah kamu? Penyakit ginjal kronis seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Inilah mengapa penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama jika memiliki faktor risiko seperti diabetes atau tekanan darah tinggi. National Kidney Foundation merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan ginjal secara teratur jika Anda berisiko.

Beratnya Hidup dengan Dialisis

Selama setahun terakhir, Hafsa harus menjalani dialisis di rumah sakit tiga kali seminggu, masing-masing selama tiga setengah jam. Proses dialisis sangat memengaruhi kualitas hidupnya.

“Banyak orang tidak menyadari dampak dialisis terhadap kehidupan. Prosesnya menyakitkan, melelahkan, dan sering kali menyebabkan sakit kepala. Saya sangat lelah setelah dialisis sehingga harus tidur sepanjang hari untuk pulih,” ungkap Hafsa.

Meskipun tim medis terus menyesuaikan perawatannya, tubuh Hafsa sulit beradaptasi. Ia sering mengalami tekanan darah tinggi, pusing, kelelahan, telinga berdenging, serta kedinginan hingga menggigil tak terkendali. Rasa sakit di otot dan tulang membuatnya sulit tidur nyenyak.

Dampak Emosional dan Mental yang Signifikan

Sebagai seorang ibu dan perawat, Hafsa selalu aktif bergerak. Namun sekarang, tiga hari dalam seminggu ia harus terhubung ke mesin dialisis. Waktu yang seharusnya bisa ia habiskan bersama keluarga kini tersita. Ia juga harus membatasi makanan, minuman, dan perjalanan jauh.

Perubahan ini sangat berat bagi Hafsa, baik secara emosional maupun mental. Ia bahkan harus menjalani konseling untuk mengatasi dampaknya. Dukungan dari suami, anak-anak, saudara, dan sahabat menjadi sumber kekuatan baginya.

“Mereka selalu ada untuk saya, menghibur saya saat saya merasa terpuruk,” tambahnya.

Harapan untuk Transplantasi Ginjal

Saat ini, satu-satunya harapan Hafsa adalah transplantasi ginjal. Suaminya sedang menjalani tes untuk menjadi donor hidup, dan ia juga terdaftar dalam daftar tunggu transplantasi. Ia berharap prosesnya segera berjalan, meskipun ia sadar bahwa ketersediaan donor dari komunitas Asia masih sangat terbatas.

Menurut Hafsa, kurangnya kesadaran tentang donor organ menjadi salah satu penyebab utama minimnya donor dari kelompok etnis tertentu. Ia berharap akan ada lebih banyak edukasi tentang donor organ, sehingga lebih banyak orang yang menyadari dampak besar yang bisa mereka berikan dengan menjadi donor.

Sambil menunggu transplantasi, Hafsa sudah menyiapkan tasnya agar bisa langsung berangkat kapan pun ada kabar baik. Ia berharap setelah transplantasi, ia dan keluarganya bisa kembali menikmati hiking dan perjalanan bersama.

Siapa Saja Bisa Terkena Penyakit Ginjal

Diperkirakan sekitar 7,2 juta orang di Inggris hidup dengan penyakit ginjal kronis, yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Hafsa tidak pernah menyangka akan mengalami penyakit ini dan harus menjalani dialisis. Ia merasa kehilangan kebebasannya.

Hafsa berharap lebih banyak orang memahami dampak penyakit ginjal dan lebih waspada terhadap gejalanya. Ia menyarankan untuk memperhatikan tanda-tandanya, seperti perubahan warna urine, dan segera periksa ke dokter.

“Jika bukan karena dialisis, saya mungkin harus menjalani perawatan paliatif sekarang,” pungkas Hafsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top