Presiden AS ke-45, Donald Trump, tiba-tiba meragukan niat Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina. Padahal, baru sehari sebelumnya, Trump sesumbar bahwa kesepakatan damai antara kedua negara sudah sangat dekat. Apa yang berubah?
Artikel ini akan membahas:
- Keraguan Trump terhadap niat damai Putin.
- Perubahan sikap Trump yang mendadak.
- Reaksi Zelenskyy atas pernyataan Trump.
- Kemungkinan sanksi baru terhadap Rusia.
Trump: Putin Mungkin Cuma Mengulur Waktu!
Setelah menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan dan bertemu singkat dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Trump mengungkapkan keraguannya melalui media sosial. Ia heran mengapa Putin masih terus menembakkan rudal ke wilayah sipil.
“Tidak ada alasan bagi Putin untuk menembakkan rudal ke wilayah sipil, kota-kota, dan desa-desa dalam beberapa hari terakhir,” tulis Trump. “Ini membuatku berpikir bahwa mungkin dia tidak ingin menghentikan perang, dia hanya mengulur waktu.”
Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan sanksi baru terhadap Rusia melalui sektor perbankan atau sanksi sekunder. “Terlalu banyak orang yang meninggal!!!” serunya.
Dari Optimis Jadi Pesimis: Apa yang Terjadi?
Keraguan Trump ini sangat kontras dengan pernyataannya sehari sebelumnya. Setelah utusan khususnya, Steve Witkoff, bertemu dengan Putin di Moskow, Trump menyatakan bahwa Ukraina dan Rusia “sangat dekat dengan kesepakatan.”
Pertemuan Trump-Zelenskyy di sela-sela pemakaman Paus adalah pertemuan tatap muka pertama antara keduanya sejak perseteruan panas di Gedung Putih pada akhir Februari. Perseteruan itu sempat membuat AS menunda bantuan militer dan berbagi intelijen dengan Ukraina.
Menurut sumber dari Council on Foreign Relations, dinamika politik internal di AS juga turut mempengaruhi perubahan pandangan Trump terhadap konflik ini.
Zelenskyy: Pertemuan yang Baik, Semoga Ada Hasil!
Setelah pertemuan singkat dengan Trump, Zelenskyy menyebutnya sebagai “pertemuan yang baik” di media sosial. Ia berharap pertemuan itu akan menghasilkan hasil yang konkret, terutama dalam melindungi nyawa rakyat Ukraina dan mencapai gencatan senjata penuh.
“Kami membahas banyak hal secara pribadi. Berharap ada hasil dari semua yang kami bahas. Melindungi nyawa rakyat kami. Gencatan senjata penuh dan tanpa syarat. Perdamaian yang dapat diandalkan dan abadi yang akan mencegah perang lain pecah,” kata Zelenskyy.
Juru bicara Zelenskyy, Serhii Nykyforov, menjelaskan bahwa Trump dan Zelenskyy tidak bertemu lagi secara pribadi karena jadwal yang padat.
Sanksi Baru Menanti Rusia?
Trump belum menindaklanjuti ancamannya untuk menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia. Padahal, beberapa sekutu Republiknya mendesak Trump untuk melakukan hal itu. Senator Chuck Grassley bahkan menyebut Putin “mempermainkan Amerika.”
Trump juga sempat mengejutkan banyak pihak ketika tidak memasukkan Rusia dalam daftar negara yang terkena tarif global baru-baru ini.
Kesimpulan: Masa Depan Perang Ukraina Masih Suram
Dengan perubahan sikap Trump yang mendadak, masa depan perundingan damai antara Ukraina dan Rusia menjadi semakin tidak pasti. Apakah Putin benar-benar tidak ingin mengakhiri perang? Atau apakah ini hanya taktik untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar di meja perundingan? Waktu yang akan menjawab.
Penting untuk diingat:
- Konflik Rusia-Ukraina telah berlangsung sejak Februari 2022 dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang besar.
- Berbagai upaya diplomatik telah dilakukan untuk mengakhiri perang, tetapi belum membuahkan hasil.
- Dampak perang ini tidak hanya dirasakan oleh Ukraina dan Rusia, tetapi juga oleh seluruh dunia.



