- Aksi May Day diwarnai isu kebijakan Trump
- Kekhawatiran soal tarif dan dampaknya pada lapangan kerja
- Tuntutan pekerja dari berbagai negara
May Day di Bawah Bayang-Bayang Trump: Apa yang Terjadi?
Setiap tanggal 1 Mei, jutaan pekerja di seluruh dunia turun ke jalan untuk merayakan Hari Buruh Internasional atau May Day. Tahun ini, aksi tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk menyuarakan hak-hak pekerja, tetapi juga menjadi panggung untuk mengkritik kebijakan ekonomi dan politik mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dari Tokyo hingga Turin, ribuan orang berpartisipasi dalam demonstrasi yang menyoroti kekhawatiran tentang agenda tarif agresif Trump dan potensi gejolak ekonomi global. Di Prancis, pemimpin serikat pekerja mengecam “Trumpisasi” politik dunia. Sementara di Italia, pengunjuk rasa bahkan membawa boneka Trump dalam parade di jalan-jalan Turin.
Tarif Trump Bikin Resah Pekerja di Taiwan
Di Taiwan, sekitar 2.500 anggota serikat pekerja dari berbagai sektor, mulai dari perikanan hingga telekomunikasi, melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor kepresidenan. Mereka memperingatkan bahwa tarif yang diberlakukan oleh Trump dapat menyebabkan hilangnya pekerjaan.
Presiden Taiwan saat itu, Lai Ching-te, menyatakan bahwa pemerintah telah mengajukan RUU senilai 410 miliar dolar Taiwan (sekitar Rp 205 triliun) untuk mendukung industri dan menstabilkan pasar kerja. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kekhawatiran akan dampak negatif dari kebijakan perdagangan AS.
Indonesia Juga Turut Bersuara
Di Indonesia, ribuan pekerja berkumpul di Monumen Nasional (Monas) Jakarta untuk merayakan May Day. Presiden saat itu, Prabowo Subianto, menyambut para pekerja dan berjanji untuk bekerja keras memberantas kemiskinan.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperkirakan sekitar 200.000 pekerja Indonesia ambil bagian dalam aksi May Day di seluruh Indonesia. Mereka menuntut penghapusan aturan *outsourcing*, kenaikan upah, dan perlindungan bagi pekerja domestik serta pekerja migran di luar negeri.
May Day Bukan Cuma Soal Ekonomi
Di Turki, May Day juga menjadi platform untuk menyuarakan isu-isu demokrasi. Para demonstran berencana untuk memprotes penahanan Walikota Istanbul dari pihak oposisi, Ekrem Imamoglu. Penahanan Imamoglu pada bulan Maret memicu protes terbesar di Turki dalam lebih dari satu dekade.
Apa Kata Serikat Pekerja di Amerika Serikat?
Di Los Angeles, salah satu acara May Day terbesar di dunia direncanakan dengan tema sentral: “Satu Perjuangan, Satu Pertempuran – Pekerja Bersatu!”
April Verrett, presiden Serikat Pekerja Internasional (SEIU), yang mewakili 2 juta pekerja, mengatakan bahwa mereka akan melawan para miliarder dan politisi yang mencoba memecah belah dengan ketakutan dan kebohongan. Verrett menegaskan bahwa serangan terhadap pekerja imigran adalah serangan terhadap semua pekerja.
Kesimpulan: May Day, Lebih dari Sekadar Hari Libur
Aksi May Day di berbagai negara menunjukkan bahwa isu-isu pekerja dan keadilan sosial masih menjadi perhatian utama di seluruh dunia. Selain itu, kebijakan ekonomi dan politik negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kondisi pekerja di negara lain.
May Day bukan hanya sekadar hari libur, tetapi juga momentum untuk menyuarakan aspirasi, menuntut perubahan, dan merayakan solidaritas pekerja di seluruh dunia.



