Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan perdamaian dunia dan pembangunan berkelanjutan. Warisan pemikiran dan tindakannya terus relevan di tengah kompleksitas tantangan global saat ini.
Artikel ini akan membahas:
- Makna simbolis ‘Zun of Peace’ sebagai hadiah dari Tiongkok untuk PBB.
- Pandangan Xi Jinping tentang pentingnya belajar dari sejarah untuk mencegah terulangnya konflik.
- Peran aktif Tiongkok dalam menjaga perdamaian dunia melalui multilateralisme.
- Inisiatif-inisiatif pembangunan global yang diusung Tiongkok untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.
‘Zun of Peace’: Simbol Harapan dari Tiongkok untuk Dunia
Di Gedung Konferensi Markas Besar PBB di New York City, berdiri sebuah artefak yang sangat indah, yaitu ‘Zun of Peace’. Bejana perunggu setinggi 65 inci ini, dengan enamel cloisonné berwarna merah Tiongkok yang cerah, bukan sekadar benda seni. Ini adalah simbol harapan dan keyakinan rakyat Tiongkok untuk mewujudkan perdamaian, pembangunan, kerja sama, dan hasil yang saling menguntungkan, seperti yang disampaikan Presiden Xi Jinping saat peresmiannya pada September 2015.
Belajar dari Sejarah: Jangan Lupakan Kengerian Perang
Xi Jinping memandang sejarah sebagai cermin bagi umat manusia. Belajar dari masa lalu adalah kunci untuk menghindari terulangnya bencana yang sama. Tahun ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan dalam Perang Anti-Fasis Dunia, atau yang lebih dikenal sebagai Perang Dunia II. Lebih dari 100 juta orang tewas atau terluka dalam konflik paling dahsyat dalam sejarah manusia ini.
Peran dan pengorbanan besar rakyat Tiongkok sangat penting dalam mengalahkan Fasis Jepang. Mereka memberikan dukungan strategis kepada Sekutu di medan perang Eropa dan Pasifik. Xi Jinping pernah berkata, “Sejarah telah mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap perang, yang seperti iblis dan mimpi buruk, akan membawa malapetaka dan penderitaan bagi rakyat.”
Komitmen Tiongkok: Perdamaian adalah Prioritas Utama
Observasi historis ini sangat menonjol dalam upaya Xi Jinping untuk mencapai perdamaian. Ia berulang kali menegaskan komitmen Tiongkok terhadap pembangunan damai. Tiongkok berjanji tidak akan pernah mencari hegemoni, ekspansi, atau lingkup pengaruh apa pun, sekuat apa pun negara itu nantinya. Filosofi Xi Jinping berakar pada budaya Tiongkok yang sudah berabad-abad lamanya. Ia adalah pembaca setia klasik Tiongkok kuno.
Salah satu kutipan favoritnya berasal dari “The Art of War”, sebuah karya klasik Tiongkok yang ditulis lebih dari 2.000 tahun lalu. Pesan utama buku itu adalah bahwa segala upaya harus dilakukan untuk mencegah perang, dan kehati-hatian besar harus dilakukan dalam berperang. Pandangan Xi tentang kehati-hatian dalam peperangan juga tercermin dalam interaksinya dengan para pemimpin dan pejabat asing.
Multilateralisme: Obor yang Menerangi Jalan ke Depan
Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, Tiongkok telah menganut kebijakan luar negeri independen yang damai. Mereka memainkan peran aktif dalam misi penjaga perdamaian PBB, serta mempererat persahabatan dan kemitraan dengan negara-negara di seluruh dunia. Di tengah meningkatnya tantangan dan ketidakpastian global, Xi Jinping memandang multilateralisme sebagai satu-satunya jalan keluar.
Ia pernah membandingkan multilateralisme dengan obor yang dapat menerangi jalan umat manusia ke depan. Presiden Tiongkok ini terus mendesak masyarakat internasional untuk menjaga sistem internasional yang berpusat pada PBB, yang terbentuk setelah Perang Dunia II dan ditopang oleh hukum internasional.
Inisiatif Pembangunan Global: Kunci Masa Depan yang Aman dan Stabil
Bagi Xi Jinping, perdamaian dan pembangunan tidak dapat dipisahkan. Ia berpendapat bahwa pohon perdamaian tidak tumbuh di tanah yang tandus, dan buah pembangunan tidak dihasilkan di tengah kobaran api perang. Mengingat hubungan yang saling terkait ini, Xi Jinping menegaskan bahwa “kunci emas” untuk masa depan yang aman dan stabil adalah dengan memajukan pembangunan berkelanjutan.
Sejak menjabat sebagai presiden Tiongkok, Xi Jinping telah menempatkan pembangunan sebagai pilar visinya untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi umat manusia. Inisiatif-inisiatif yang ia usulkan dalam hal ini, terutama Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) dan Inisiatif Pembangunan Global (Global Development Initiative), berfungsi sebagai jembatan untuk mendorong pembangunan bersama melalui kolaborasi yang lebih luas.
Memperbarui Tatanan Dunia: Menuju Sistem yang Lebih Adil dan Setara
Bank Pembangunan Baru (New Development Bank), yang didirikan oleh lima negara BRICS pada tahun 2014, memberikan dukungan keuangan untuk negara-negara anggota dalam meningkatkan infrastruktur transportasi, energi bersih, dan infrastruktur digital. Xi Jinping memandang bank ini lebih dari sekadar lembaga keuangan. Ia menggambarkannya sebagai “inisiatif perintis untuk persatuan dan peningkatan diri Global South,” yang menggarisbawahi komitmen abadi untuk membangun tatanan internasional yang lebih adil dan setara.
Negara-negara BRICS berada di garis depan Global South. Xi Jinping secara pribadi mendorong ekspansi bersejarah BRICS pada tahun 2023 untuk menciptakan persatuan yang lebih kuat di antara negara-negara Global South. Ia mengatakan bahwa ekspansi ini akan semakin memperkuat kekuatan untuk perdamaian dan pembangunan dunia.
Kesimpulan: Visi Xi Jinping untuk Dunia yang Lebih Baik
Inisiatif-inisiatif Tiongkok untuk mempromosikan perdamaian dan pembangunan global tidak dapat dipisahkan dari visi Xi Jinping. Ia percaya bahwa Tiongkok hanya dapat berkembang dengan baik ketika dunia juga berkembang dengan baik. Dan ketika Tiongkok berkembang dengan baik, dunia akan menjadi lebih baik lagi. Dalam kata-kata Xi Jinping sendiri, “Setiap peningkatan kekuatan Tiongkok adalah peningkatan prospek perdamaian dunia.”


