Kerja sama antara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan National Audit Department (NAD) Malaysia semakin erat! Mereka saling bertukar ilmu demi meningkatkan kualitas audit keuangan negara. Penasaran apa saja yang mereka diskusikan? Yuk, simak selengkapnya!
- Fokus Utama: Peningkatan praktik audit dan penjajakan kerja sama di masa depan.
- Momen Penting: Pertemuan delegasi NAD di BPK Jakarta pada 12 Juni 2025.
- Topik Bahasan: Audit kepatuhan syariah dan pemanfaatan sistem informasi untuk memantau tindak lanjut audit.
- Potensi Kolaborasi: Pengembangan sumber daya manusia melalui program pelatihan bersama.
BPK dan NAD Malaysia: Sahabat Sejati Demi Keuangan Negara yang Lebih Baik
Kabar gembira datang dari dunia audit! BPK RI dan NAD Malaysia makin menunjukkan kekompakan mereka. Kedua lembaga ini sepakat untuk mempererat hubungan bilateral melalui kunjungan berbagi ilmu. Tujuannya? Tak lain dan tak bukan adalah untuk meningkatkan praktik audit dan menjajaki kerja sama di masa depan.
Kunjungan NAD Malaysia ke Markas BPK RI
Delegasi NAD Malaysia, yang dipimpin langsung oleh Auditor General Wan Suraya Wan Mohd Radzi, mengunjungi kantor BPK di Jakarta pada tanggal 12 Juni 2025. Kunjungan ini menjadi bukti nyata komitmen kedua lembaga untuk terus menjalin hubungan baik yang telah terjalin sejak tahun 2007.
Menurut Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Internasional BPK, Teguh Widodo, momen ini semakin memperkuat hubungan harmonis yang telah lama dibangun oleh kedua institusi. Keren, kan?
Diskusi Seru: Audit Syariah dan Sistem Informasi
Dalam pertemuan teknis yang berlangsung hangat, BPK dan NAD membahas dua isu penting:
1. Audit Kepatuhan Syariah
BPK berbagi pengalaman mereka dalam mengaudit kegiatan lembaga perbankan syariah. NAD juga gak mau kalah, mereka memaparkan pendekatan mereka dalam mengaudit aset filantropi Islam, seperti zakat, wakaf, dan dana keagamaan lainnya.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki perkembangan ekonomi syariah yang pesat. Data dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menunjukkan bahwa aset keuangan syariah terus meningkat setiap tahunnya.
2. Pemanfaatan Sistem Informasi untuk Tindak Lanjut Audit
BPK mempresentasikan sistem mereka dalam perencanaan sumber daya audit, yaitu Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL), dan laboratorium big data analytics (BIDICS). NAD pun memperkenalkan sistem serupa yang mereka gunakan.
Intip Kecanggihan BIDICS BPK
Delegasi NAD juga berkesempatan untuk melihat langsung fasilitas BIDICS dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan BPK. Kepala Pusdiklat BPK, Raden Yudi Ramdan Budiman, menjelaskan bahwa BPK menerapkan konsep Corporate University sebagai pendekatan strategis untuk menyatukan dan meningkatkan pengembangan pegawai di seluruh unit kerja.
Kolaborasi Sumber Daya Manusia: Pelatihan Bersama?
NAD juga menyoroti potensi kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia antara Akademi Audit Nasional Malaysia dan Pusdiklat BPK. Hal ini membuka peluang untuk program pelatihan dan pertukaran bersama di masa depan. Wah, makin sip!
Kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi auditor dari kedua negara. Menurut data dari Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), peningkatan kompetensi auditor sangat penting untuk menjaga kualitas laporan keuangan dan mencegah terjadinya fraud.
Apa Kata Para Ahli?
Pengamat ekonomi, Dr. Anggito Abimanyu, menyambut baik kerja sama antara BPK dan NAD. Menurutnya, “Kerja sama ini sangat positif untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Dengan saling bertukar pengalaman dan pengetahuan, diharapkan praktik audit di kedua negara akan semakin baik.”
Kesimpulan
Kerja sama antara BPK RI dan NAD Malaysia merupakan langkah maju dalam upaya meningkatkan kualitas audit keuangan negara. Dengan saling berbagi ilmu dan pengalaman, diharapkan kedua lembaga ini dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang lebih transparan dan akuntabel.




