- Jumlah uang beredar (M2) naik jadi Rp9.406,6 triliun!
- Didorong oleh peningkatan uang kartal (M1) dan uang kuasi.
- Kredit yang disalurkan juga ikut naik, tapi sedikit melambat.
- BI melihat ini sebagai sinyal positif buat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dompet Makin Tebal: Uang Beredar Naik Terus!
Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2025 terus menunjukkan peningkatan. Angkanya mencapai Rp9.406,6 triliun! Kalau dirupiahkan ke dolar Amerika (kurs Rp16.455 per 23 Juni 2025), jumlahnya sekitar US$571,66 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,9% dibandingkan tahun lalu (year-on-year/yoy). Bahkan, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (April 2025), pertumbuhannya mencapai 5,2% yoy.
Apa Sih Arti M1, M2, dan Uang Kuasi?
Mungkin sebagian dari kita masih bingung, apa sih bedanya M1, M2, dan uang kuasi? Singkatnya:
- M1 (Narrow Money): Uang tunai yang ada di dompet kita dan uang yang tersimpan di rekening koran. Ini adalah jenis uang yang paling mudah digunakan untuk transaksi sehari-hari.
- M2 (Broad Money): Lebih luas dari M1, termasuk juga uang di tabungan, deposito, dan aset-aset lain yang mudah dicairkan jadi uang tunai.
- Uang Kuasi: Aset-aset yang hampir sama mudahnya dengan uang tunai, seperti obligasi pemerintah jangka pendek dan mata uang asing.
Kenapa Uang Beredar Bisa Naik?
Menurut BI, ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah uang beredar di bulan Mei 2025:
- Kredit yang Disalurkan Meningkat: Bank-bank memberikan lebih banyak pinjaman kepada masyarakat dan dunia usaha. Ini berarti lebih banyak uang yang beredar di perekonomian.
- Klaim Bersih ke Pemerintah Pusat: Pemerintah mengurangi pinjaman dari bank sentral.
- Aset Luar Negeri Bersih Meningkat: Cadangan devisa negara bertambah.
Dampak Positif buat Kita Semua?
Peningkatan jumlah uang beredar ini bisa jadi kabar baik, lho! Ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan lebih banyak uang yang beredar, masyarakat punya lebih banyak daya beli. Dunia usaha juga bisa lebih mudah mendapatkan modal untuk mengembangkan bisnisnya.
Tapi, Tetap Waspada!
Meskipun ada potensi dampak positif, kita juga perlu waspada. Peningkatan jumlah uang beredar yang terlalu cepat bisa menyebabkan inflasi alias harga-harga naik. Oleh karena itu, BI perlu menjaga agar pertumbuhan uang beredar tetap terkendali.
Bagaimana BI Menjaga Stabilitas Ekonomi?
BI punya beberapa jurus untuk menjaga stabilitas ekonomi, di antaranya:
- Mengatur Suku Bunga: Menaikkan suku bunga bisa mengurangi jumlah uang beredar, sementara menurunkan suku bunga bisa mendorong pertumbuhan kredit.
- Operasi Pasar Terbuka: BI bisa membeli atau menjual surat berharga pemerintah untuk mempengaruhi jumlah uang beredar.
- Menetapkan Giro Wajib Minimum (GWM): GWM adalah sejumlah dana yang wajib disimpan oleh bank di bank sentral. Dengan menaikkan GWM, BI bisa mengurangi jumlah uang yang bisa dipinjamkan oleh bank.
Dengan berbagai kebijakan ini, BI berharap bisa menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.




