Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, baru-baru ini membuat pernyataan yang cukup menarik perhatian. Ia menghubungkan blok ekonomi BRICS dengan semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Apa maksudnya? Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Inti dari artikel ini:
- Lula sebut BRICS sebagai perwujudan semangat Bandung.
- Kritik terhadap melemahnya multilateralisme global.
- Peran penting Indonesia dalam forum internasional.
BRICS dan Semangat Bandung: Apa Hubungannya?
Presiden Lula dengan tegas menyatakan bahwa BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) adalah manifestasi dari gerakan non-blok yang digaungkan dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Indonesia, pada tahun 1955. Baginya, BRICS membawa semangat Bandung yang menjunjung tinggi kemandirian dan kerja sama antar negara berkembang.
Kritik Pedas untuk Multilateralisme Global
Di tengah pidatonya, Lula juga menyinggung soal menurunnya semangat multilateralisme di antara negara-negara di dunia. Ia menyoroti usia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sudah mencapai 80 tahun, namun justru menyaksikan kemerosotan multilateralisme yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Lula mengingatkan bahwa PBB didirikan pada tahun 1945 sebagai simbol harapan komunitas internasional setelah mengalahkan fasisme. Beberapa negara anggota BRICS bahkan menjadi bagian dari negara pendiri PBB. Namun, ia juga menekankan bahwa Konferensi Bandung sepuluh tahun kemudian menolak pembagian dunia ke dalam zona-zona pengaruh dan memperjuangkan tatanan internasional yang multipolar.
Indonesia dalam Pusaran BRICS: Apa Perannya?
Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, turut hadir dalam KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil. Prabowo memimpin delegasi Indonesia dalam sesi pleno yang membahas perdamaian, keamanan, dan reformasi tata kelola global. Kehadiran Prabowo ini menunjukkan betapa pentingnya peran Indonesia dalam forum internasional, terutama dalam menjembatani perbedaan dan mencari solusi atas masalah-masalah global.
Selain Prabowo, hadir pula sejumlah tokoh penting lainnya, seperti Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, dan Putra Mahkota Abu Dhabi Khalid bin Mohammed bin Zayed dari Uni Emirat Arab.
BRICS: Kekuatan Baru dalam Kancah Global?
Lula menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa BRICS semakin penting dalam membentuk lanskap global. Ia bahkan menyebut BRICS sebagai pewaris gerakan non-blok. Pernyataan ini tentu saja memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan. Apakah BRICS akan menjadi kekuatan penyeimbang baru dalam percaturan politik dan ekonomi dunia? Atau hanya sekadar aliansi tanpa kekuatan nyata?
Yang jelas, dengan semakin menguatnya BRICS, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar dalam kancah global. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi yang terus berkembang, Indonesia dapat menjadi jembatan antara negara-negara maju dan berkembang, serta menjadi motor penggerak perdamaian dan kemakmuran dunia.
Sejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung 1955
Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang berlangsung di Bandung pada tahun 1955 adalah tonggak penting dalam sejarah dunia. KAA dihadiri oleh 29 negara dari Asia dan Afrika yang baru saja merdeka atau sedang berjuang untuk kemerdekaannya. Tujuan utama KAA adalah untuk mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika serta menentang kolonialisme dan imperialisme.
KAA menghasilkan Dasasila Bandung, sebuah deklarasi yang berisi sepuluh prinsip dasar dalam menjalin hubungan antar negara, yaitu:
- Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua negara.
- Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua negara, besar maupun kecil.
- Tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain.
- Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan diri secara sendiri maupun kolektif, sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun.
- Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun.
- Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, ataupun cara damai lainnya sesuai dengan pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
- Mempromosikan kerja sama untuk kepentingan bersama.
- Menghormati hukum dan kewajiban internasional.
Dasasila Bandung menjadi inspirasi bagi gerakan non-blok yang menentang blok Barat dan blok Timur selama Perang Dingin.


