- Keragaman Latar Belakang: Calon dokter dari berbagai bidang, bukan hanya lulusan sains.
- Peralihan Karir: Banyak profesional yang banting setir, membuktikan bahwa mimpi jadi dokter bisa diraih kapan saja.
- Kisah Inspiratif: Ada mantan pengacara hingga insinyur, semuanya punya motivasi kuat untuk berkontribusi di dunia kesehatan.
- Si Kembar: Pertama kalinya Duke-NUS menerima mahasiswa kembar yang sama-sama bersemangat di bidang kedokteran.
Duke-NUS: Wadah bagi Bakat Medis yang Beragam
Duke-NUS Medical School kembali mencetak sejarah dengan menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik dan profesional. Kelas 2029 ini terdiri dari 78 orang yang siap mengabdikan diri di dunia medis. Yang menarik, 46 di antaranya adalah profesional yang sebelumnya berkarir di bidang lain!
“Duke-NUS didirikan untuk mendobrak cara pengembangan bakat medis di Singapura,” ujar Profesor Thomas Coffman, Dekan Duke-NUS. “Dengan menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang, kami menyatukan pikiran-pikiran berbeda yang memiliki tujuan yang sama: melayani, menyembuhkan, dan meningkatkan kesehatan generasi mendatang.”
Kisah-Kisah Inspiratif di Balik Jas Putih
Di antara mahasiswa baru ini, ada Ms. Seah Xue Er, Cheryl (33), seorang mantan pengacara senior dengan pengalaman satu dekade di bidang hukum. Ia juga seorang instruktur yoga paruh waktu! Cheryl percaya pada kompetensi dan rasa kasih sayang dalam merawat pasien.
“Saya ingin menjadi dokter yang terlibat langsung, bersemangat, dan tak kenal lelah dalam memperjuangkan hasil terbaik bagi setiap pasien,” katanya.
Ada juga Ms. Tania Chattopadhyay (30), yang meninggalkan karir di bidang software engineering demi mengejar mimpi menjadi dokter. Inspirasinya datang dari perjuangan ayahnya melawan penyakit jantung. Kini, ia bertekad menciptakan solusi preventif untuk penyakit kardiovaskular dan metabolik.
Pertama Kalinya! Mahasiswa Kembar di Duke-NUS
Yang lebih menarik lagi, tahun ini Duke-NUS menerima mahasiswa kembar untuk pertama kalinya! Ms. Shruthi Kumar dan Ms. Swathi Kumar (23) memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, yaitu psikologi dan engineering. Namun, mereka memiliki satu kesamaan: semangat untuk menyembuhkan.
“Melangkah ke dunia kedokteran bersama-sama terasa sangat istimewa,” kata Shruthi. “Kami selalu saling menantang dan mendukung, dan sekarang, kami bersemangat untuk belajar dengan sudut pandang yang berbeda dan membawa kekuatan kami yang berbeda ke dunia kedokteran.”
Pentingnya Empati dalam Dunia Medis
Mr. Tang Zheng Yang Tony (24), lulusan Sastra Inggris, percaya bahwa kedokteran dan sastra adalah dua sisi mata uang yang sama, yang menyoroti kompleksitas kehidupan manusia. Ia berharap dapat menggunakan empati dan introspeksi yang didapatkannya dari pelatihan humaniora untuk menawarkan perawatan holistik sebagai seorang klinisi.
Kelas 2029 ini terdiri dari 57 warga Singapura, empat penduduk tetap, dan 17 mahasiswa internasional dari berbagai negara. Mereka akan menjalani pelatihan klinis di institusi SingHealth dan lulus dengan gelar MD yang diberikan bersama oleh Duke University dan National University of Singapore.
Duke-NUS: Sekolah Kedokteran Pascasarjana yang Unik
Duke-NUS adalah satu-satunya sekolah kedokteran pascasarjana di Singapura. Kurikulumnya yang berakar pada penelitian dan pembelajaran berbasis tim dirancang untuk mahasiswa yang membawa kedewasaan, tujuan, dan pengalaman yang beragam ke dunia kedokteran.
Fakta Menarik Seputar Duke-NUS:
- Didirikan pada tahun 2005 melalui kerjasama antara Duke University School of Medicine dan National University of Singapore (NUS).
- Memiliki lima Program Penelitian Unggulan dan sepuluh Pusat Penelitian.
- Bekerjasama dengan Singapore Health Services (SingHealth) dalam 15 Program Klinis Akademik.
Dengan menerima mahasiswa dari berbagai latar belakang dan pengalaman, Duke-NUS terus membuktikan komitmennya untuk menghasilkan dokter-dokter yang kompeten, berbelas kasih, dan siap berkontribusi bagi dunia kesehatan.




