Tragedi Gaza: 34 Nyawa Melayang dalam Serangan Israel Jelang Sidang PBB!

Peristiwa mengerikan kembali terjadi di Jalur Gaza. Dalam satu malam, serangan Israel dilaporkan merenggut nyawa sedikitnya 34 warga Palestina, termasuk anak-anak. Kejadian ini sontak menimbulkan kecaman internasional dan terjadi tepat menjelang pertemuan penting negara-negara dunia di PBB yang salah satunya akan membahas pengakuan negara Palestina. Simak fakta-fakta mengejutkan di balik tragedi ini:

  • Lebih dari 30 korban tewas dalam serangan udara Israel di Gaza City.
  • Serangan terjadi di tengah eskalasi konflik yang makin memanas.
  • Beberapa negara Barat bersiap akui negara Palestina.
  • Aktivis di Israel desak perdamaian dan pengakuan Palestina.
  • Paus Leo XIV kecam ‘pengusiran paksa’ warga Palestina.

Serangan Mematikan di Gaza City

Pagi ini, kabar duka datang dari Jalur Gaza. Pejabat kesehatan setempat melaporkan bahwa serangan udara Israel semalam telah merenggut nyawa setidaknya 34 orang di Gaza City. Sebagian besar korban, termasuk 14 orang yang tewas dalam satu serangan pada Sabtu malam, dibawa ke Rumah Sakit Shifa. Tragisnya, di antara para korban terdapat seorang perawat rumah sakit beserta istri dan ketiga anaknya. Insiden ini semakin menambah daftar panjang korban jiwa dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Eskalasi Konflik di Tengah Rencana Pengakuan Palestina

Serangan terbaru ini terjadi di saat yang sangat krusial. Beberapa negara Barat, termasuk Inggris, Prancis, Kanada, Australia, Malta, Belgia, dan Luksemburg, dikabarkan siap untuk mengakui negara Palestina dalam pertemuan Majelis Umum PBB yang akan datang. Portugal bahkan menyatakan akan mengakui negara Palestina pada hari Minggu. Keputusan ini, jika terwujud, bisa menjadi langkah besar menuju solusi dua negara. Namun, serangan Israel yang terus berlanjut justru semakin memperkecil harapan gencatan senjata dan perdamaian.

Seruan Perdamaian dari Berbagai Pihak

Di tengah memanasnya konflik, suara-suara perdamaian justru semakin menguat. Lebih dari 60 organisasi Yahudi dan Arab di Israel, yang tergabung dalam Koalisi ‘It’s Time’, menyerukan diakhirinya perang, pembebasan sandera, dan pengakuan negara Palestina. Mereka melihat keputusan PBB sebagai kesempatan emas untuk beralih dari perang tanpa akhir menuju masa depan yang aman dan bebas bagi kedua bangsa. Demonstrasi besar-besaran juga terjadi di Israel, menuntut hal yang sama.

Klaim Israel dan Bantahan Keluarga Korban

Militer Israel mengklaim telah menewaskan seorang penembak jitu Hamas bernama Majed Abu Selmiya di Gaza City. Mereka menyatakan bahwa Selmiya sedang bersiap melancarkan serangan lebih lanjut. Namun, klaim ini dibantah keras oleh keluarga korban. Dr. Mohamed Abu Selmiya, direktur Rumah Sakit Shifa dan kakak dari Majed, menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan. Ia menegaskan bahwa kakaknya, yang berusia 57 tahun, menderita hipertensi, diabetes, dan masalah penglihatan, serta menuduh Israel berusaha membenarkan pembunuhan warga sipil.

Krisis Kemanusiaan yang Makin Memburuk

Serangan Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza, memaksa sekitar 90% penduduknya mengungsi, dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah. Para ahli memperkirakan Gaza City kini dilanda kelaparan. Israel telah memerintahkan ratusan ribu warga Palestina untuk pindah ke selatan Gaza, namun banyak yang tidak memiliki tempat tujuan, terlalu lemah untuk bepergian, atau tidak mampu membiayai perpindahan mereka. Kelompok bantuan kemanusiaan memperingatkan bahwa evakuasi paksa ini hanya akan memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan dan mendesak adanya gencatan senjata agar bantuan dapat tersalurkan.

Paus Leo XIV Menyayangkan ‘Pengusiran Paksa’

Dalam pesannya pada Minggu siang, Paus Leo XIV mengecam keras apa yang disebutnya sebagai “pengusiran paksa” warga Palestina dari rumah mereka di Gaza. Ia menyatakan bahwa tidak ada masa depan bagi Gaza yang “tertindas” jika didasarkan pada kekerasan dan balas dendam. Paus juga kembali menyerukan perdamaian dan mengapresiasi kerja organisasi Katolik yang membantu warga Palestina.

Sumber:

About The Author

Bima Nugroho

Bima, Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Airlangga, terpesona dengan koneksi global dan dinamika antar budaya. Ia ingin membuat peristiwa internasional kompleks menjadi mudah dipahami, gemar bepergian, kolektor musik dunia, dan juga menulis untuk Mega Kancah.

Share this article

Back To Top