Presiden Donald Trump kembali menggebrak podium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan pidato yang mengguncang. Kali ini, ia tak segan melontarkan kritik tajam terhadap organisasi dunia itu sendiri, menyebutnya “jauh dari memenuhi potensinya.” Tak hanya itu, Trump juga melempar peringatan keras kepada negara-negara Eropa mengenai ancaman “monster bermata dua” dari kebijakan migrasi dan energi hijau yang dinilainya akan menghancurkan masa depan benua biru. Simak poin-poin utama pidato kontroversial Trump berikut:
- Kritik keras terhadap efektivitas dan potensi PBB yang belum tergarap.
- Peringatan kepada Eropa tentang dampak negatif kebijakan migrasi dan energi hijau.
- Pembelaan terhadap kebijakan “America First” dan klaim kesuksesan luar negeri.
- Sikap baru terhadap perang Rusia-Ukraina dan dorongan pengakuan Palestina.
- Sentilan ringan soal fasilitas PBB yang bermasalah.
Trump Tuding PBB Loyo, Potensi Besar Tak Tergarap
Dalam pidatonya yang berapi-api di hadapan Majelis Umum PBB, Donald Trump dengan gamblang menyatakan kekecewaannya. Ia melihat PBB memiliki potensi luar biasa sebagai panggung perdamaian dunia, namun faktanya, organisasi ini dinilainya “bahkan tidak mendekati” untuk mewujudkan potensi tersebut. Trump menyebut pidato-pidatonya di PBB selama ini hanya berisi “kata-kata kosong” yang tidak mampu menyelesaikan konflik global.
“Apa gunanya PBB?” tanya Trump retoris. “PBB punya potensi luar biasa. Saya selalu mengatakannya. Potensinya sangat, sangat besar. Tapi mereka tidak mampu memanfaatkannya.” Ia menambahkan bahwa sebagai seorang presiden, ia telah berupaya keras menciptakan perdamaian, dan seringkali merasa PBB justru tidak berbuat apa-apa dalam upaya tersebut.
Peringatan Keras untuk Eropa: “Monster Bermata Dua” Siap Menghancurkan!
Puncak pidato Trump adalah peringatannya yang tajam kepada negara-negara Eropa. Ia menyebut kebijakan migrasi yang dinilainya terlalu terbuka dan ketergantungan pada energi hijau sebagai “monster bermata dua” yang siap menghancurkan ekonomi dan budaya mereka.
“Saya memberi tahu Anda, jika Anda tidak menjauhi penipuan energi hijau, negara Anda akan gagal,” tegas Trump. “Jika Anda tidak menghentikan orang-orang yang belum pernah Anda lihat, yang tidak memiliki kesamaan apa pun dengan Anda, negara Anda akan gagal.” Ia mengklaim sangat mencintai rakyat Eropa dan sedih melihat mereka “dihancurkan oleh energi dan imigrasi.”
Trump mempromosikan kebijakan energinya yang mengizinkan pengeboran minyak dan gas alam secara luas di Amerika Serikat, serta pengetatan imigrasi ilegal. Ia menyiratkan bahwa negara-negara lain seharusnya meniru langkah-langkah tersebut demi stabilitas ekonomi dan budaya mereka.
Bela Kebijakan “America First” dan Klaim Keberhasilan
Seperti biasa, Trump tak melewatkan kesempatan untuk memuji kebijakan luar negerinya sendiri di bawah bendera “America First.” Ia mengklaim telah menjadi negarawan perdamaian dan merinci keberhasilan administrasinya dalam meredakan konflik di berbagai belahan dunia. Keputusannya untuk melakukan serangan militer terhadap Iran dan para penyelundup narkoba dari Venezuela juga dibenarkan sebagai tindakan tegas untuk melindungi kepentingan Amerika.
Pergeseran Dramatis Soal Perang Rusia-Ukraina
Menariknya, Trump juga menyinggung soal perang Rusia-Ukraina. Setelah pidatonya, ia mengumumkan pergeseran sikap yang signifikan. Jika sebelumnya ia seringkali menyiratkan kepentingan AS dalam perang itu terbatas, kini ia menyatakan keyakinannya bahwa Ukraina, dengan dukungan NATO, mampu merebut kembali seluruh wilayahnya dari Rusia.
“Saya pikir Ukraina, dengan dukungan Uni Eropa, berada dalam posisi untuk melawan dan MEMENANGKAN kembali seluruh Ukraina dalam bentuk aslinya,” tulis Trump pasca-pidato. Ia juga menyebut Rusia telah berjuang “tanpa tujuan” selama bertahun-tahun dan membuatnya terlihat seperti “macan kertas.”
Sikap Tegas Terhadap Pengakuan Palestina
Trump juga menyoroti upaya internasional yang semakin gencar untuk mendapatkan pengakuan negara Palestina. Ia dengan tegas menolak langkah tersebut, bahkan yang baru saja diambil oleh Prancis, dengan alasan hal itu akan menjadi “hadiah bagi teroris Hamas” atas kekejaman yang mereka lakukan, termasuk serangan 7 Oktober.
Sentilan Kocak soal Fasilitas PBB
Di awal pidatonya, Trump menyempatkan diri untuk melontarkan lelucon ringan mengenai fasilitas PBB yang ia alami. Ia mengeluhkan eskalator yang tidak berfungsi dan teleprompter yang bermasalah saat kedatangannya.
“Ini dua hal yang saya dapatkan dari PBB: eskalator rusak dan teleprompter rusak,” ujarnya, disambut gelak tawa para delegasi. Juru bicara PBB kemudian mengklarifikasi bahwa eskalator berhenti mendadak karena kemungkinan terpicunya mekanisme keamanan oleh juru videografer yang mendampingi delegasi AS, sementara teleprompter dioperasikan oleh Gedung Putih.
Menanti Nobel Perdamaian?
Trump kembali menegaskan keinginannya untuk dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Ia mengulang klaimnya yang kontroversial bahwa ia telah “mengakhiri tujuh perang” sejak menjabat. “Semua orang bilang saya seharusnya mendapat Nobel, tapi bagi saya, hadiah sebenarnya adalah anak-anak yang hidup untuk tumbuh dewasa karena jutaan orang tidak lagi terbunuh dalam perang tanpa akhir,” katanya.
Meskipun Trump sering menyoroti upayanya dalam menengahi konflik global, para ahli berpendapat dampaknya tidak sejelas yang ia klaim.


