Perubahan iklim bukan lagi cerita fiksi, tapi realita yang dampaknya mulai kita rasakan. Salah satu dampaknya yang mungkin belum banyak disadari adalah kenaikan harga asuransi. Kok bisa? Yuk, kita bedah lebih dalam!
Poin-poin penting yang akan dibahas:
- Bagaimana risiko asuransi bisa jadi ‘pajak karbon’ tersembunyi.
- Mengapa premi asuransi properti terus meroket.
- Siapa yang paling terdampak kenaikan biaya ini.
- Apa saja bencana yang memicu kenaikan tersebut.
Bencana Alam Kian Ganas, Asuransi Ikut Naik Harga
Punya rumah atau properti lain? Siap-siap saja premi asuransi makin mahal. Kenapa? Karena bencana alam akibat perubahan iklim semakin sering terjadi dan kerusakannya juga semakin parah. Perusahaan asuransi pun harus ikut menyesuaikan diri. Dulu, kerugian akibat bencana alam rata-rata sekitar $63 miliar per tahun (periode 1993-2022). Tapi, setelah tahun 2020, angka ini melonjak tajam sampai lebih dari $100 miliar per tahun! Contohnya, badai Milton dan banjir Eropa yang bikin kerugian di tahun 2024 berpotensi lebih tinggi lagi. Sumber: Swiss Re.
Premi Asuransi Meroket, Reasuransi Ikut Naik
Kenaikan biaya ini tentu saja tidak berhenti di perusahaan asuransi. Perusahaan-perusahaan ini kemudian ‘melempar’ sebagian risikonya ke perusahaan reasuransi. Akibatnya, biaya reasuransi juga ikut naik drastis. Indeks harga reasuransi properti global, yang disusun oleh broker Guy Carpenter, naik lebih dari 75% sejak tahun 2017. Ini membuat perusahaan asuransi tidak punya pilihan lain selain menaikkan premi yang harus dibayar konsumen. Namun, kenaikan ini juga jadi angin segar bagi perusahaan asuransi, setelah sekian lama ‘terjebak’ dengan tingkat suku bunga bank yang rendah.
Rumah Tahan Bencana, Solusi atau Mimpi?
Sebenarnya, kenaikan harga asuransi bisa jadi ‘cambuk’ bagi pemilik rumah dan pengembang untuk membangun rumah yang lebih tahan terhadap bencana seperti banjir dan kebakaran. Sayangnya, di Inggris, 8% rumah baru malah dibangun di daerah rawan banjir. Bahkan, rumah-rumah ini tidak bisa mendapatkan bantuan dari program Flood Re. Ini seperti kita tahu risiko, tapi tetap ‘nekat’ membangun di zona bahaya. NBER
Siapa yang Paling Terdampak?
Yang lebih parah lagi, kenaikan harga asuransi ini tidak adil. Semakin mahal biaya asuransi, semakin banyak orang yang tidak mampu lagi untuk membelinya. Akibatnya, mereka yang paling rentan terhadap bencana, seperti masyarakat miskin, justru jadi yang paling tidak terlindungi. Menurut penelitian terbaru, rumah-rumah di daerah rawan bencana di Amerika Serikat bisa menghadapi kenaikan premi asuransi hingga $700 per tahun pada tahun 2053. Hal ini tentu saja sangat membebani mereka.
Bencana ‘Sekunder’ Ikut Sumbang Kenaikan Premi
Dulu, perusahaan reasuransi khawatir dengan bencana besar yang terjadi sekali dalam 10 tahun. Sekarang, mereka harus menghadapi bencana ‘sekunder’ yang lebih sering terjadi, seperti badai petir dan banjir di berbagai negara. Kerugian akibat bencana-bencana ini memang tidak sebesar bencana besar, tapi karena frekuensinya yang lebih sering, total kerugiannya juga jadi sangat besar. Contohnya, rekor jumlah tornado di Amerika Serikat dan banjir di Eropa Tengah. AON
Dampak Buruk Jika Tidak Ada Solusi
Jika harga asuransi terus naik, bukan tidak mungkin semakin banyak properti yang tidak diasuransikan. Perusahaan asuransi pun bisa saja angkat kaki dari pasar. Di Florida, misalnya, perusahaan asuransi properti terbesar adalah perusahaan milik negara, Citizens Property Insurance. Kalau ini terjadi, siapa yang akan menanggung kerugian akibat bencana? Kemungkinan besar, ya, lagi-lagi uang dari pajak rakyat. Atau, yang lebih buruk, masyarakat miskin yang paling merasakan dampaknya. Ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal keadilan sosial dan ekonomi.
Pajak Karbon yang Tak Terhindarkan
Jadi, kenaikan harga asuransi ini, suka tidak suka, adalah bentuk ‘pajak karbon’ yang tidak terlihat. Walaupun tidak ada kebijakan resmi soal pajak karbon, perubahan iklim memaksa kita untuk membayar lebih. Ironisnya, yang paling merasakan dampak ini adalah mereka yang paling tidak berkontribusi terhadap perubahan iklim. Kita semua perlu sadar bahwa perubahan iklim itu nyata dan dampaknya sudah ada di depan mata. Jangan sampai kita terlambat untuk melakukan sesuatu.
Untuk lebih memahami bagaimana perubahan iklim mempengaruhi perekonomian, kamu bisa membaca laporan dari UNEP.




