Biaya Kemacetan: ‘Makan Siang Gratis’ Ala New York!

Hai, warga Indonesia! Siapa bilang kemacetan gak bisa diatasi? New York City baru aja bikin gebrakan dengan menerapkan biaya kemacetan. Ini bukan sekadar cari duit, tapi cara cerdas buat bikin kota lebih lancar. Yuk, kita bedah lebih dalam!
  • Biaya Kemacetan: New York menerapkan biaya $9 untuk mobil yang masuk pusat kota Manhattan.
  • Teori Ekonomi Kuno: Kebijakan ini terinspirasi dari pemikiran ekonom Arthur Pigou dan William Vickrey.
  • Hasil Positif: Pengurangan kendaraan dan waktu tunggu yang lebih singkat di terowongan.
  • Dana untuk Transportasi Umum: Sebagian besar pendapatan digunakan untuk meningkatkan layanan bus dan kereta bawah tanah.
  • Dampak Jangka Panjang: Kota yang lebih mudah dijelajahi, tetapi juga perlu pemikiran ekonomi yang berbeda.

New York Terapkan ‘Pajak’ Kemacetan

Kota New York, atau yang sering disebut ‘Big Apple’, akhirnya menerapkan teori ekonomi kuno untuk mengatasi masalah kemacetan. Kebijakan baru ini mengenakan biaya $9 untuk hampir semua kendaraan yang masuk ke pusat kota Manhattan. Ini seperti penghormatan, meski agak telat, kepada Arthur Pigou, seorang sarjana Inggris yang berpendapat bahwa kegiatan yang merugikan orang lain harus dikenakan pajak. Selain itu, ada juga pengaruh dari William Vickrey, seorang peraih Nobel kelahiran Kanada, yang mengusulkan biaya kemacetan pada tahun 1952. Dan, bertentangan dengan apa yang dikatakan Milton Friedman, ini bisa dibilang ‘makan siang gratis’! Kok bisa?

Bayangkan saja, kemacetan di kota sebesar New York ini sudah parah banget. Kecepatan rata-rata di pusat kota hanya sekitar 7,7 km per jam tahun lalu, menurut data dari Balai Kota. Tapi, hasil awal dari biaya kemacetan ini cukup menjanjikan. Dalam minggu pertama, ada sekitar 220.000 lebih sedikit kendaraan yang masuk pusat kota. Waktu tunggu di Terowongan Holland menuju New Jersey juga berkurang sampai 65%! Sumber.

Biaya Kemacetan: Lebih dari Sekadar Uang

Kemacetan bukan cuma bikin kita telat, tapi juga rugi secara ekonomi. Seorang komuter di New York rata-rata kehilangan 102 jam produktif karena terjebak macet di tahun 2024, menurut perkiraan konsultan lalu lintas Inrix. Jika dihitung dengan nilai sekitar $18 per jam, lebih dari 5 juta pengemudi membuang $9,5 miliar setiap tahunnya! Sumber

Tapi, kerugiannya gak cuma itu. Kemacetan juga bikin boros bahan bakar, polusi makin parah, kendaraan darurat lambat merespon, dan biaya pengiriman barang juga naik. Semua faktor ini menambah sekitar sepertiga dari total biaya, menurut studi dari Departemen Transportasi AS tahun 2009. Sumber

Manfaat Biaya Kemacetan

Ada juga manfaat lain yang mungkin gak langsung kelihatan. Saat London mulai menerapkan biaya kemacetan di tahun 2003, variasi waktu tempuh berkurang sekitar 30% selama jam sibuk. Ini sangat membantu orang-orang yang harus tepat waktu untuk rapat atau mengejar penerbangan. Sumber

Bagaimana dengan Masyarakat Miskin?

Pasti ada yang khawatir kalau biaya ini akan membebani masyarakat yang lebih miskin. Tapi, ternyata di kota-kota lain, orang kaya cenderung yang paling banyak membayar. Masyarakat kelas pekerja biasanya lebih sering menggunakan transportasi umum. New York juga meniru Singapura dan Stockholm dengan mengalokasikan sebagian besar pendapatan biaya kemacetan untuk transportasi umum. Sumber

Dengan lebih sedikit mobil, perjalanan bus jadi lebih cepat, dan peningkatan jumlah penumpang juga berarti layanan bus jadi lebih sering. Setelah biaya kemacetan diterapkan, jumlah penumpang kereta bawah tanah dan kereta dari dan menuju pinggiran kota juga melonjak. Sumber

Tantangan ke Depan

Meski ada tanda-tanda positif, mengatasi kemacetan itu seperti tugas yang gak ada habisnya. Bahkan setelah menaikkan biayanya tiga kali lipat selama dua dekade, kemacetan di London tahun lalu sama parahnya dengan New York, menurut Inrix. Jumlah perjalanan mobil memang berkurang, tapi lebih banyak orang yang bepergian melewati zona yang ditetapkan. Selain itu, sebagian jalan juga diubah menjadi jalur sepeda dan trotoar. Sumber

Tentu saja, kota yang lebih mudah dijelajahi juga akan menarik lebih banyak penduduk, yang artinya kita harus berpikir ekonomi yang berbeda lagi. Biaya kemacetan di London berhasil mengurangi jumlah perjalanan mobil, sementara perjalanan harian dengan moda transportasi lain justru meningkat.

Jadi, bagaimana menurut kamu? Apakah biaya kemacetan ini solusi yang tepat untuk kota-kota besar di Indonesia? Yuk, diskusikan di kolom komentar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top