Dilema Obligasi: China Terjebak Antara Pertumbuhan dan Mata Uang Lemah?

China sedang menghadapi situasi yang rumit. Di satu sisi, pemerintah sangat membutuhkan dana untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang sedang lesu. Di sisi lain, kebijakan yang mereka ambil untuk mendapatkan dana murah justru berpotensi melemahkan mata uang yuan. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita bedah lebih dalam!

Poin-poin Utama:

  • Permintaan obligasi pemerintah China melonjak, membantu Beijing mendapatkan dana murah.
  • Imbal hasil obligasi terus menurun, memicu ekspektasi suku bunga rendah.
  • Penurunan imbal hasil ini justru melemahkan mata uang yuan, bertentangan dengan keinginan Presiden Xi Jinping.
  • Bank sentral China (PBOC) kini dilema: Memompa stimulus atau menjaga nilai yuan?

Mengapa Obligasi Pemerintah China Jadi Primadona?

Tahun lalu menjadi tahun yang penting bagi pasar obligasi pemerintah China. Kementerian Keuangan China menerbitkan obligasi khusus jangka panjang senilai 1 triliun yuan (sekitar 138 miliar dolar AS). Tujuannya jelas, untuk mendanai berbagai program pemerintah dan keluar dari krisis kepercayaan konsumen. Padahal, jika Presiden AS Donald Trump benar-benar menaikkan tarif impor barang dari China, biaya yang harus ditanggung pemerintah bisa jadi membengkak.

Yang mengejutkan, bukannya harga obligasi turun karena penawaran yang melimpah, justru terjadi lonjakan harga yang tak terduga. Akibatnya, imbal hasil obligasi 10 tahun China turun drastis hingga mencapai rekor terendah sekitar 1,65%. Ini seperti win-win solution, bukan? Investor China mendapat tempat aman untuk menyimpan uang mereka saat pasar saham dan properti sedang lesu. Sementara itu, pemerintah China bisa meminjam dana dengan biaya murah.

Masalah Mulai Muncul

Namun, masalahnya tidak sesederhana itu. Kurva imbal hasil obligasi China semakin datar. Obligasi pemerintah jangka panjang (30 tahun) kini memberikan imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan obligasi serupa di Jepang. Padahal, Jepang dikenal dengan kebijakan suku bunga rendah dan mengalami stagnasi ekonomi selama beberapa dekade.

Selain itu, harga konsumen di China terus menurun sejak awal 2023. Hal ini juga memicu masuknya spekulan ke pasar obligasi. Volume perdagangan melonjak 45% pada tahun 2024. Bank sentral China (PBOC) sempat mencoba menahan laju kenaikan harga obligasi, bahkan mengancam akan menjual obligasi pemerintah. Namun, pada akhirnya, PBOC justru membeli obligasi pemerintah secara agresif untuk mendorong stimulus ekonomi.

PBOC membeli obligasi pemerintah senilai 1 triliun yuan dari Agustus hingga Desember. Ini pertama kalinya sejak 2008 PBOC meningkatkan kepemilikan obligasinya. Pembelian ini baru berhenti pada Januari saat yuan terus melemah di tengah gejolak pasar global.

Dilema China: Dana Murah atau Yuan Kuat?

Pembelian obligasi besar-besaran oleh PBOC membuat banyak orang meyakini bahwa China akan terus menerapkan kebijakan suku bunga rendah. Dua pertiga investor yang disurvei oleh Goldman Sachs bahkan memperkirakan imbal hasil obligasi 10 tahun akan berada di bawah 1,6% pada akhir 2025. Ekonom dari CITIC Securities juga memperkirakan akan ada pemangkasan suku bunga pinjaman satu tahun sebesar 40 basis poin.

Ini menjadi masalah serius bagi ambisi Presiden Xi Jinping untuk memperkuat mata uang yuan. Perbedaan imbal hasil obligasi 10 tahun antara China dan AS yang mencapai 300 basis poin telah mendorong yuan ke titik terendah dalam 15 bulan terakhir terhadap dolar AS. Padahal, pemerintah China juga sedang memperketat kontrol modal untuk mencegah keluarnya dana secara besar-besaran.

Salah satu cara China mengatasi masalah ini adalah dengan mempercepat persetujuan perusahaan-perusahaan China untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) di Hong Kong. Ini akan memungkinkan mereka mendapatkan mata uang keras (dolar AS) tanpa harus menukar yuan. China juga mungkin saja melemahkan mata uangnya untuk memberikan tekanan kepada AS sebagai balasan atas tarif yang lebih tinggi.

Namun, solusi yang paling efektif untuk mengatasi masalah ini adalah dengan meningkatkan belanja pemerintah untuk memacu ekonomi. Artinya, imbal hasil obligasi kemungkinan perlu terus turun sebelum akhirnya naik kembali. Dilema yang dihadapi Beijing semakin rumit.

Apa Selanjutnya?

Perekonomian China sedang menghadapi tantangan yang besar. Kebijakan yang diambil pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi justru berpotensi melemahkan mata uang yuan. Pemerintah China perlu mengambil langkah yang hati-hati agar tidak terjebak dalam lingkaran setan.

Apakah China akan berhasil keluar dari dilema ini? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!

Catatan Tambahan

Perlu diingat bahwa informasi dalam artikel ini hanya bersifat analisis dan pandangan dari berbagai sumber. Kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah bisa berubah sewaktu-waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top