- Konflik global bisa bikin harga pangan melonjak drastis.
- Indonesia perlu transformasi kebijakan untuk mandiri pangan.
- Penguatan hilirisasi pangan lokal jadi kunci peningkatan pendapatan petani.
- Transisi energi di sektor pertanian perlu dipercepat.
Ketahanan Pangan RI Terancam Gejolak Dunia?
Anggota MPR, Johan Rosihan, menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak eskalasi konflik antara Iran dan Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat, terhadap ketahanan pangan Indonesia. Menurutnya, situasi ini membutuhkan respons kebijakan yang cepat dan tepat dari pemerintah.
“Perang di Timur Tengah sudah menjadi krisis global yang juga mengancam stabilitas harga pangan di dalam negeri,” ujarnya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara News.
Kenapa Konflik Bisa Bikin Harga Pangan Naik?
Rosihan menjelaskan bahwa konflik tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Saat harga minyak naik, biaya distribusi pangan dan biaya pertanian pun ikut terkerek naik. Ini bisa menjadi beban ganda bagi petani Indonesia.
Selain itu, kenaikan harga pangan juga bisa menurunkan daya beli masyarakat, meningkatkan angka kemiskinan, dan menyebabkan masalah gizi dan kesehatan, terutama pada anak-anak. Kondisi ini, jika tidak diatasi, bisa memicu ketidakpuasan sosial dan bahkan kerusuhan.
Indonesia Rawan Krisis Pangan?
Data menunjukkan bahwa Indonesia pernah mencatat tingkat kelaparan tertinggi ketiga di ASEAN pada tahun 2020. Ini menjadi indikasi bahwa sistem pangan nasional kita masih sangat rentan terhadap guncangan global.
Solusinya Apa?
1. Percepat Transisi Energi di Sektor Pertanian
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mempercepat transisi energi di sektor pertanian. Artinya, kita perlu mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, seperti energi surya atau biogas.
Info tambahan: Pemerintah Indonesia memiliki target untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Sektor pertanian juga diharapkan berkontribusi dalam mencapai target tersebut.
2. Kuatkan Hilirisasi Pangan Lokal
Hilirisasi pangan lokal, yaitu pengolahan produk pertanian mentah menjadi barang olahan dengan nilai tambah tinggi, juga menjadi kunci penting. Dengan hilirisasi, petani dan pelaku bisnis di sektor pertanian bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar.
Contoh hilirisasi pangan:
- Pengolahan singkong menjadi tepung mocaf.
- Pembuatan keripik buah dari hasil panen lokal.
- Pengembangan produk olahan ikan dengan berbagai varian rasa.
3. Diversifikasi Pangan: Jangan Cuma Nasi!
Indonesia terlalu bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama. Padahal, banyak sumber pangan lokal lain yang bergizi tinggi, seperti jagung, singkong, ubi jalar, dan sagu. Diversifikasi pangan penting untuk mengurangi tekanan pada beras dan meningkatkan ketahanan pangan secara keseluruhan.
Data menarik: Sagu merupakan sumber karbohidrat penting bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur. Selain itu, sagu juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri.
Saatnya Bertindak!
Gejolak geopolitik memang tidak bisa kita hindari. Namun, dengan langkah-langkah strategis dan kebijakan yang tepat, Indonesia bisa memperkuat ketahanan pangannya dan melindungi masyarakat dari dampak negatif krisis global. Mari dukung upaya pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri pangan!




