Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menghantui peternak Indonesia. Seorang guru besar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) angkat bicara dan memberikan solusi yang cukup mengejutkan: hentikan impor daging dari negara-negara yang belum bebas PMK! Kok bisa? Mari kita bedah lebih dalam.
Poin-poin Penting:
- Guru Besar IPB, Prof. Dwi Andreas Santosa, menduga impor daging dari negara yang belum bebas PMK menjadi penyebab utama wabah PMK di Indonesia.
- Indonesia pernah dinyatakan bebas PMK sejak tahun 1990, namun kembali terjadi wabah setelah impor daging dari India yang belum bebas PMK.
- Wabah PMK menyebabkan penurunan populasi sapi perah di Indonesia secara signifikan.
- Prof. Dwi Andreas mengimbau pemerintah untuk lebih selektif dalam impor daging dan memprioritaskan negara yang sudah bebas PMK.
PMK Mengancam Peternak Lokal: Impor Biang Keroknya?
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bukan lagi cerita baru bagi peternak di Indonesia. Setelah sempat dinyatakan bebas, wabah ini kembali merebak dan menimbulkan kerugian besar. Prof. Dwi Andreas Santosa, seorang ahli pertanian dari IPB, mengungkapkan bahwa akar masalahnya bisa jadi berasal dari kebijakan impor daging yang kurang cermat.
Lho, kok bisa impor daging jadi masalah?
Begini ceritanya. Indonesia pernah berjaya dan mendapatkan status bebas PMK sejak tahun 1990. Tapi, sayangnya, status ini seolah sirna begitu saja ketika pemerintah membuka pintu impor daging, khususnya dari negara-negara yang masih berkutat dengan wabah PMK. India, salah satu contohnya, belum bebas PMK dan menjadi salah satu negara pemasok daging ke Indonesia. Prof. Dwi Andreas menduga bahwa gelombang wabah PMK yang terjadi saat ini adalah dampak langsung dari impor daging dari negara-negara tersebut.
Dampak PMK: Peternak Rugi, Populasi Sapi Menurun Drastis
Wabah PMK bukan sekadar angka-angka statistik. Dampaknya sangat terasa bagi peternak, terutama peternak sapi perah. Prof. Dwi Andreas menjelaskan, populasi sapi perah di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan akibat PMK.
Bayangkan saja: Dari sekitar 580 ribu ekor sapi perah pada tahun 2021, jumlahnya merosot tajam menjadi 507 ribu ekor pada tahun 2022. Ini artinya, peternak kehilangan potensi produksi susu dan pendapatan mereka. Dan bukan hanya sapi perah, sapi potong pun ikut terkena imbasnya. Wabah PMK membuat peternak terpaksa menjual ternak mereka dengan harga murah, bahkan ada yang sampai mati karena penyakit ini.
Solusi dari IPB: Stop Impor, Prioritaskan Lokal!
Prof. Dwi Andreas tidak tinggal diam melihat kondisi ini. Ia memberikan solusi yang tegas: hentikan impor daging dari negara-negara yang belum bebas PMK! Menurutnya, ini adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memberantas wabah PMK di Indonesia.
Pemerintah harus lebih selektif dan memprioritaskan impor daging dari negara-negara yang sudah terbebas dari PMK. Selain itu, pemerintah juga harus fokus pada pengembangan peternakan lokal dan meningkatkan biosekuriti di peternakan untuk mencegah wabah PMK di masa depan.
Ini Bukan Sekadar Isu Daging
Isu PMK bukan sekadar masalah impor dan ekspor daging. Ini adalah isu tentang keberlangsungan hidup peternak lokal, ketahanan pangan, dan perekonomian negara. Jika wabah PMK terus dibiarkan, maka peternak akan semakin terpuruk, pasokan daging dan susu akan terganggu, dan harga-harga pun bisa semakin mahal.
Mari kita dukung upaya pemerintah untuk benar-benar memberantas PMK. Stop impor daging dari negara yang belum bebas PMK dan prioritaskan produk peternakan lokal. Ini demi masa depan peternak Indonesia yang lebih baik.




