Thames Water, perusahaan air terbesar di Inggris, sedang berjuang keras. Setelah lolos dari kebangkrutan berkat pinjaman besar, masa depan perusahaan ini masih penuh tanda tanya. Apakah perusahaan investasi seperti KKR mampu menyelamatkan Thames Water dan mendapatkan keuntungan? Nasib Thames Water ini akan menjadi ujian penting bagi Inggris dan juga konsep privatisasi aset publik.
- Krisis Thames Water: Terlilit utang dan butuh investasi besar.
- Ujian Privatisasi: Menentukan masa depan model privatisasi di Inggris.
- Siapakah Penyelamat?: Perusahaan investasi berebut untuk mengambil alih.
- Risiko dan Tantangan: Banyak hambatan yang harus dihadapi untuk memulihkan Thames Water.
Thames Water: Antara Hidup dan Mati
Thames Water baru-baru ini selamat dari kebangkrutan setelah mendapatkan pinjaman darurat sebesar 3 miliar poundsterling (sekitar Rp 58 triliun) dari kreditur. Namun, masalah belum selesai. Perusahaan ini masih membutuhkan dana segar untuk membayar utang, mendapatkan kembali kepercayaan pasar kredit, dan mendanai program investasi senilai 20 miliar poundsterling (sekitar Rp 388 triliun).
Privatisasi di Ujung Jurang?
Kasus Thames Water ini menjadi sangat penting karena menyangkut model privatisasi sektor air di Inggris yang sudah berjalan sejak tahun 1980-an. Jika perusahaan seperti KKR (perusahaan investasi asal AS) berhasil menyelamatkan Thames Water dan mendapatkan keuntungan yang layak, ini akan menjadi angin segar bagi investasi asing di Inggris. Sebaliknya, jika pemerintah Inggris terpaksa menasionalisasi Thames Water, hal ini akan menjadi sinyal buruk bagi investor global.
Kenapa Thames Water Bisa Bangkrut?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Thames Water terjerat masalah. Pertama, infrastruktur pipa air yang sudah tua (berasal dari era Victoria). Kedua, populasi London yang terus bertambah. Ketiga, denda akibat kinerja buruk. Semua ini membebani neraca keuangan perusahaan.
Menurut sistem yang berlaku di Inggris, perusahaan air diizinkan untuk mendapatkan keuntungan tetap yang ditetapkan oleh regulator (Ofwat). Namun, banyak pihak yang menilai bahwa aturan saat ini tidak memberikan insentif yang cukup bagi investor untuk mengambil risiko.
Siapa Saja yang Berminat Menyelamatkan Thames Water?
Beberapa perusahaan investasi telah menyatakan minatnya untuk mengambil alih Thames Water, termasuk KKR dan Castle Water. Bahkan, CK Infrastructure (perusahaan asal Hong Kong) menawarkan dana hingga 7 miliar poundsterling.
Hitung-hitungan yang Rumit
Menghitung nilai ekuitas Thames Water bukanlah perkara mudah. Aset regulasi perusahaan (RCV) hanya sekitar 20 miliar poundsterling, sementara utangnya mencapai 17 miliar poundsterling. Ini berarti nilai ekuitas teoritisnya hanya sekitar 3 miliar poundsterling. Namun, investor baru punya opsi lain: mengurangi beban utang dengan cara bernegosiasi dengan pemegang obligasi.
Seberapa Besar ‘Potongan’ untuk Pemegang Obligasi?
Jika utang Thames Water dipangkas, misalnya, sebesar 40%, maka rasionya terhadap RCV akan turun menjadi sekitar 50%. Ini akan membuat Thames Water lebih sehat secara finansial. Namun, pemegang obligasi tentu tidak akan senang dengan langkah ini.
Simulasi Keuntungan Jika Thames Water Berhasil Diselamatkan
Mari kita asumsikan bahwa pemilik baru berhasil meyakinkan pemegang obligasi senior untuk menerima kerugian sebesar 25%. Ini akan menurunkan utang Thames Water menjadi sekitar 60% dari RCV. Kemudian, KKR atau investor lain menginvestasikan 4 miliar poundsterling di awal, dan 1 miliar poundsterling setiap tahun selama empat tahun berikutnya.
Jika Thames Water berhasil membalikkan keadaan dan menutupi biaya ekuitasnya sebesar 7%, maka nilai RCV-nya di tahun 2030 diperkirakan mencapai 33 miliar poundsterling. Dengan asumsi utang sekitar 60% dari RCV, nilai ekuitasnya akan menjadi sekitar 13 miliar poundsterling. Ini setara dengan tingkat pengembalian internal (IRR) sebesar 14% selama lima tahun ke depan. Angka ini cukup menarik bagi investor seperti KKR.
Risiko yang Mengintai
Tentu saja, ada banyak risiko yang harus diperhatikan. Pemilik baru bisa terjebak dalam pertarungan dengan pemegang obligasi. Pemulihan Thames Water mungkin membutuhkan waktu lebih lama atau biaya lebih besar dari yang diperkirakan. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pengembalian ekuitas perusahaan ini cenderung negatif.
Dampak Jangka Panjang
Jika Thames Water berhasil diselamatkan, ini akan membuktikan bahwa model privatisasi di Inggris masih relevan. Namun, jika pemegang obligasi mengalami kerugian besar, ini bisa membuat para pemberi pinjaman sektor utilitas menjadi khawatir.
Perusahaan air di Inggris akan menaikkan tarif sekitar sepertiga dalam lima tahun ke depan. Ini diperlukan untuk mendanai investasi, tetapi bisa membuat masyarakat marah. Singkatnya, Thames Water menawarkan potensi keuntungan yang menarik, tetapi juga risiko yang tidak sedikit.




