- Pergeseran fokus dari makanan ke kecantikan dan kesehatan.
- Penurunan pertumbuhan penjualan makanan akibat inflasi dan perubahan perilaku konsumen.
- Perbandingan valuasi antara perusahaan makanan dan perusahaan kecantikan.
- Strategi baru Unilever untuk memperkuat bisnis kecantikan dan kesehatan.
- Potensi keuntungan dari fokus baru ini.
Dulu Makanan, Sekarang Kecantikan: Ada Apa?
Dulu, perusahaan-perusahaan raksasa seperti Unilever, Nestlé, dan Kraft Heinz sangat berjaya dengan produk makanan mereka. Bayangkan saja, siapa yang tidak kenal dengan sereal Cheerios, saus tomat Heinz, atau es krim Ben & Jerry’s? Mereka berlomba-lomba membuat berbagai produk baru dan memperluas jangkauan pasar hingga ke negara-negara seperti Indonesia dan India.
Tapi, semua berubah sejak inflasi melanda dunia pada tahun 2022. Konsumen jadi lebih pintar dalam berbelanja. Mereka mencari harga termurah, yang membuat perusahaan makanan kesulitan untuk menjaga pendapatan dan margin keuntungan mereka tetap stabil. Bahkan, CEO baru Nestlé, Laurent Freixe, mengakui bahwa mereka hanya menargetkan pertumbuhan pendapatan 4% dalam jangka menengah. Ini jauh dari target mereka sebelumnya yang berada di kisaran pertumbuhan satu digit.
Bisnis Kecantikan Lebih Menggiurkan
Lalu, bagaimana dengan bisnis produk kecantikan? Ternyata, bisnis ini jauh lebih menguntungkan! Perusahaan seperti Galderma, yang menjual produk perawatan kulit, diperkirakan akan tumbuh antara 8,8% hingga 9,5% pada tahun 2024. Sementara itu, L’Oréal, raksasa kosmetik asal Prancis, diperkirakan akan meningkatkan penjualan mereka sekitar 5% per tahun dalam tiga tahun ke depan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan perusahaan makanan seperti Nestlé dan Kraft Heinz.
Perbedaan ini juga tercermin dalam valuasi perusahaan. Perusahaan makanan seperti Kraft Heinz dan Nestlé memiliki nilai perusahaan yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan kecantikan seperti Galderma dan L’Oréal. Investor pun mulai menyadari bahwa bisnis kecantikan lebih menjanjikan.
Perbandingan Valuasi Perusahaan
| Perusahaan | Sektor | Perbandingan EV/EBIT (Estimasi 2025) |
|---|---|---|
| Kraft Heinz | Makanan | 10x |
| Nestlé | Makanan | 17x |
| Danone | Makanan | 15x |
| Unilever | Makanan | 14x |
| Galderma | Kecantikan | 28x |
| L’Oréal | Kecantikan | 28x |
Strategi Baru Unilever: Lebih Cantik dan Sehat
Melihat potensi besar di bisnis kecantikan dan kesehatan, CEO Unilever, Hein Schumacher, mengambil langkah berani. Dia memutuskan untuk menjual bisnis es krim Unilever dan fokus pada pengembangan bisnis kecantikan dan kesehatan. Ini termasuk produk perawatan pribadi, kesehatan, dan produk-produk yang menunjang gaya hidup sehat.
Unilever akan menginvestasikan sebagian besar dari anggaran pemasaran sebesar $9 miliar untuk mempromosikan produk-produk kecantikan dan kesehatan. Hanya beberapa merek makanan seperti mayones Hellmann’s dan kaldu Knorr yang akan mendapatkan anggaran pemasaran yang besar. Sisanya, bisnis makanan akan secara bertahap dikurangi.
Pembagian Keuntungan Operasi Unilever di Tahun 2025 (Estimasi)
- Kecantikan dan Kesehatan: Lebih dari seperempat
- Nutrisi: Seperempat
- Perawatan Rumah Tangga: Hampir seperlima
- Perawatan Pribadi: Hampir 30%
Potensi Keuntungan yang Menggiurkan
Bayangkan jika Unilever berhasil meningkatkan kontribusi bisnis kecantikan dan kesehatan hingga 40%. Ini bisa dicapai dengan membeli merek-merek kecil dan meningkatkan belanja pemasaran untuk divisi ini. Jika divisi lain tetap sama, kontribusi bisnis nutrisi akan menyusut menjadi 12%.
Jika strategi ini berhasil, divisi kecantikan dan kesehatan Unilever bisa menghasilkan keuntungan operasi sebesar 4,3 miliar euro. Dengan valuasi 28 kali lipat, divisi ini bisa bernilai 119 miliar euro. Sementara itu, bisnis nutrisi yang lebih ramping bisa bernilai 21 miliar euro. Jika semua divisi dihargai dengan valuasi yang sama, Unilever bisa bernilai 216 miliar euro, meningkat 25% dari nilai perusahaan saat ini.
Kesimpulan: Perusahaan Makanan Harus Berbenah
Pergeseran fokus dari makanan ke kecantikan dan kesehatan adalah bukti bahwa bisnis makanan tidak lagi semenarik dulu. Perusahaan-perusahaan makanan harus berbenah dan mencari cara baru untuk tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen dan persaingan yang semakin ketat. Tanpa strategi baru, mereka akan tertinggal dan kalah saing.
Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah kamu setuju dengan keputusan Unilever untuk lebih fokus pada bisnis kecantikan dan kesehatan? Yuk, diskusikan di kolom komentar!



