Fenomena ‘perang sarung’ di Surabaya makin meresahkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi edukatif yang unik dan diharapkan membuat jera para pelaku. Apa saja sanksinya? Simak selengkapnya!
- Sanksi Unik: Mandikan ODGJ dan ziarah kubur!
- Tujuan: Memberikan efek jera dan pelajaran moral.
- Target: Anak-anak dan remaja yang terlibat ‘perang sarung’.
- Pesan Walikota: Pendekatan dari hati, bukan hukuman yang merusak.
Perang Sarung Surabaya: Bukan Sekadar Main-Main!
Siapa sangka, ‘perang sarung’ yang awalnya terlihat seperti permainan biasa, kini menjadi perhatian serius di Surabaya. Aksi ini bukan hanya berpotensi menyebabkan luka fisik, tetapi juga mengganggu ketertiban umum. Menanggapi hal ini, Pemkot Surabaya tidak tinggal diam.
Sanksi Edukatif: Lebih dari Sekadar Hukuman
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan bahwa sanksi yang diberikan bersifat edukatif. Tujuannya adalah memberikan efek jera sekaligus menanamkan nilai-nilai moral kepada para pelaku.
Mandikan ODGJ di Liponsos
Salah satu sanksi yang cukup unik adalah membantu merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos). Para pelaku ‘perang sarung’ akan diminta untuk memandikan, membersihkan kamar, dan berinteraksi dengan para ODGJ. Diharapkan, pengalaman ini dapat membuka mata mereka tentang realita kehidupan dan menumbuhkan rasa empati.
Info Penting: Liponsos adalah tempat penampungan sementara bagi mereka yang membutuhkan bantuan sosial, termasuk ODGJ, lansia terlantar, dan anak-anak jalanan.
Ziarah Kubur: Merenungi Makna Kehidupan
Selain merawat ODGJ, para pelaku ‘perang sarung’ juga akan diajak untuk melakukan ziarah kubur. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk merenungi makna kehidupan dan menyadari pentingnya menghargai orang tua.
“Sanksinya dibawa ke kuburan. Melihat kuburan, untuk menyadarkan mereka, misal bagaimana kalau orang tua mereka meninggal nanti siapa yang akan merawat mereka,” jelas Eri Cahyadi.
Pendekatan Hati: Lebih Efektif daripada Kekerasan
Eri Cahyadi menekankan bahwa pendekatan yang digunakan bukanlah hukuman fisik atau kekerasan. Ia percaya bahwa pendekatan dari hati akan lebih efektif dalam menyadarkan anak-anak dan remaja yang terlibat ‘perang sarung’.
“Ya kami memang sentuh dari hati. Kalau anak ini dimarahi malah tidak jadi apa-apa. Kita tetap disiplin tapi hukumnya juga untuk menyadarkan, bukan hukuman untuk semakin merusak mereka dan menjadi dendam,” pungkasnya.
Dukungan dari DPRD Surabaya
Upaya Pemkot Surabaya dalam menanggulangi ‘perang sarung’ juga mendapatkan dukungan dari DPRD Surabaya. Para wakil rakyat meminta agar orang tua lebih ketat mengawasi anak-anak mereka agar tidak terlibat dalam kegiatan yang membahayakan.
Apa Itu Perang Sarung?
Perang sarung adalah kegiatan yang melibatkan sekelompok anak muda atau remaja yang saling memukul menggunakan sarung yang diikat dan diayunkan. Meskipun terlihat seperti permainan, kegiatan ini dapat menyebabkan luka serius, terutama jika sarung diisi dengan benda keras.
Mari Jaga Surabaya Tetap Aman dan Nyaman!
Semoga dengan adanya sanksi edukatif ini, para pelaku ‘perang sarung’ dapat menyadari kesalahan mereka dan tidak mengulangi perbuatannya. Mari bersama-sama menjaga Surabaya tetap aman dan nyaman bagi semua warga!




