Davos Jadi Pesta Nonton Eksklusif: Trump Kembali, Dunia Geger!

Pekan ini, Davos, kota di Swiss yang terkenal dengan pemandangan pegunungan Alpina yang indah, akan menjadi tuan rumah ‘pesta nonton’ paling eksklusif di dunia. Bukan pesta biasa, tapi sebuah perhelatan akbar para pemimpin dunia menyaksikan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang diadakan setiap Januari di Davos seharusnya menjadi tempat para pemimpin politik, bisnis, dan keuangan dunia berkumpul untuk mencari solusi masalah global. Tapi, tahun ini, para delegasi malah lebih fokus pada satu hal: menyaksikan drama politik yang terjadi di Amerika Serikat.

Intinya:

  • Davos jadi ‘panggung’ nonton pelantikan Trump.
  • Para pemimpin dunia lebih tertarik dengan drama politik AS.
  • Agenda WEF terabaikan karena ‘efek Trump’.
  • Davos dianggap kehilangan relevansinya di era politik yang makin terpecah.

Davos: Bukan Lagi Tempat Cari Solusi, Tapi Tempat Nonton Drama

Pertemuan tahunan WEF yang didirikan oleh Klaus Schwab lebih dari lima dekade lalu ini, seolah menjadi bukti betapa para elite dunia sangat senang berkumpul dan berinteraksi satu sama lain. Terlepas dari kemajuan teknologi komunikasi dan kesadaran akan dampak lingkungan dari perjalanan jarak jauh, ribuan politisi, eksekutif, investor, birokrat, dan jurnalis tetap rela melakukan perjalanan tahunan ke pegunungan Alpen Swiss ini. Mereka akan berdesakan di ruang konferensi yang panas dan pesta koktail yang ramai untuk membahas berbagai masalah, mulai dari kesepakatan korporasi, konflik di Ukraina dan Gaza, hingga perkembangan terbaru dalam kecerdasan buatan.

Akan tetapi, daya tarik WEF tampaknya tak lekang oleh waktu, bahkan di tengah sentimen anti-elite global yang semakin kuat. Walaupun ada teori konspirasi online tak berdasar dan antipati publik terhadap sosok “Manusia Davos”, WEF tetap mampu menarik banyak perhatian. Pada tahun hingga Juni 2024, organisasi ini bahkan berhasil meraup pendapatan hampir 440 juta franc Swiss, seperempat lebih banyak dari tahun 2019. Sumber

Trump: Bintang Utama di Davos, Meski Tak Hadir Langsung

Namun, pekan ini, perhatian para delegasi yang mengenakan sepatu bot salju di Davos akan tertuju pada satu orang yang berada hampir 7.000 kilometer jauhnya. Ya, Donald Trump, yang akan dilantik di Gedung Capitol Amerika Serikat pada hari Senin. Sumber

Pelantikan Trump yang diikuti dengan serangkaian perintah eksekutif dan arahan terkait berbagai isu, mulai dari energi hingga imigrasi, dikhawatirkan akan mengguncang pasar keuangan dan mengubah nasib ekonomi, industri, dan perusahaan di seluruh dunia. Para pemodal dan eksekutif korporasi, yang banyak di antaranya selama ini menganggap janji-janji Trump tentang tarif impor dan deportasi massal hanya sebagai retorika kampanye, kini akan menatap layar mereka dengan cemas saat detail kebijakan itu satu per satu terungkap.

Mantan bintang reality TV ini bahkan dijadwalkan akan tampil secara virtual di depan para peserta Davos pada hari Kamis. Kemunculan Trump ini, meskipun hanya virtual, tampaknya menjadi daya tarik utama yang membuat para pemimpin dunia rela menyisihkan waktu mereka untuk menyaksikannya.

Absennya Para Pemimpin Dunia: Sinyal Keraguan Terhadap Davos?

Jadwal yang bertabrakan ini memaksa para pemimpin korporasi membuat pilihan yang cukup signifikan. Beberapa nama besar seperti bos Microsoft Satya Nadella, Jamie Dimon dari JPMorgan, dan Larry Fink dari BlackRock tetap hadir di Davos. Sumber Sumber Sumber

Namun, sebagian besar pemimpin perusahaan teknologi kelas kakap lebih memilih untuk menghadiri pelantikan Trump di AS. Bos Amazon Jeff Bezos, Elon Musk dari Tesla, Mark Zuckerberg dari Meta, Tim Cook dari Apple, dan Sundar Pichai dari Alphabet, semua memutuskan untuk berada di Washington saat pelantikan. Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber

Selain itu, Davos juga kekurangan kehadiran para pemimpin politik. Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi juga tidak hadir. Satu-satunya pemimpin terpilih dari negara-negara maju anggota G7 yang hadir di Davos adalah Olaf Scholz dari Jerman, yang partainya diperkirakan akan kalah dalam pemilihan umum bulan depan.

Davos di Persimpangan Jalan

Minimnya tamu penting ini memperkuat anggapan bahwa dunia semakin menjauh dari semangat pro-perdagangan dan internasionalisme yang selama ini diusung oleh WEF. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Trump, semakin agresif menggunakan sanksi keuangan dan kontrol ekspor terhadap negara-negara pesaingnya, seperti Rusia dan China. Sumber Sumber Sumber Sumber

Subsidi industri besar-besaran, seperti yang diluncurkan oleh Presiden Biden melalui Inflation Reduction Act, juga telah memicu persaingan antar negara untuk menarik investasi dan fasilitas manufaktur. Ancaman tarif impor yang dilontarkan Trump semakin memperburuk situasi ini.

Para peserta Davos tampak pesimistis. Dalam survei risiko global tahunan yang dilakukan oleh WEF, 23% responden mengidentifikasi “konflik bersenjata antar negara” sebagai bahaya terbesar yang dihadapi dunia tahun ini. Angka ini jauh lebih tinggi dari ancaman lain seperti cuaca ekstrem, misinformasi, dan pandemi. Sumber

Wacana Trump tentang aneksasi Greenland dan perebutan kembali Terusan Panama semakin memperkuat kekhawatiran ini, dan sangat kontras dengan tema pertemuan tahun ini yang bernuansa optimis: “Kolaborasi untuk Era Cerdas”. Para peserta mungkin bertanya-tanya, apakah Davos masih relevan di tengah kondisi dunia yang semakin terpecah dan penuh ketidakpastian ini?

Masa Depan Davos: Perlu Transformasi?

Memang, WEF pernah berhasil melakukan transformasi di masa lalu. Setelah krisis keuangan 2008 mendiskreditkan kapitalisme Barat, Schwab berhasil menarik delegasi dari negara-negara berkembang seperti India, China, dan Afrika Selatan. Organisasi ini bahkan berhasil merangkul Trump, yang dua kali melakukan perjalanan ke pegunungan Swiss selama masa jabatan pertamanya.

Namun, WEF juga menghadapi masalah suksesi. Tahun lalu, Schwab yang berusia 86 tahun mengumumkan akan menyerahkan tanggung jawab eksekutif. Ini membuka peluang bagi pemimpin baru untuk memikirkan kembali tujuan Davos di era politik dan ekonomi yang semakin rumit ini.

Untuk saat ini, pertanyaan-pertanyaan ini akan dibayangi oleh drama layar kecil yang terjadi di Washington, enam zona waktu jauhnya. Apakah Davos akan tetap relevan, atau hanya menjadi tempat ‘nonton’ drama politik? Waktu yang akan menjawab.

Artikel ini berdasarkan laporan dari Peter Thal Larsen dan sumber-sumber terkait lainnya di Reuters, BBC, dan WEF. Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber Sumber

About The Author

Putri Siregar

Putri adalah lulusan Sarjana Ilmu Media dari Universitas Brawijaya Malang. Ia sangat tertarik pada tren mode, musik, dan film, dan senang berbagi pengetahuannya. Putri juga seorang ilustrator berbakat dan sering menyertakan ilustrasi karyanya dalam artikelnya. Ia adalah penggemar film dan konser. Saat ini, Putri juga menulis artikel freelance untuk Mega Kancah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top