Bahaya Demokrasi Ala Hongaria: Paralel dengan Ambisi Trump!

Apakah kamu tahu bahwa gaya pemerintahan di Hongaria bisa jadi cerminan masa depan Amerika Serikat? Beberapa pihak khawatir, kembalinya Donald Trump ke tampuk kekuasaan punya kemiripan dengan cara Viktor Orbán memimpin Hongaria. Apa saja yang perlu kita waspadai?

  • Inspirasi dari Hongaria: Konservatif AS terinspirasi dari gaya kepemimpinan Viktor Orbán.
  • Paralel yang Mengkhawatirkan: Ada kemiripan antara taktik Orbán dan agenda Trump.
  • Ancaman bagi Demokrasi: Kekuatan negara digunakan untuk membungkam oposisi dan mengubah sistem hukum.

Hongaria dan Trump: Dua Sisi Mata Uang?

Beberapa jam sebelum Donald Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya, Viktor Orbán, Perdana Menteri Hongaria, menyampaikan pidato yang mengejutkan. Ia menyatakan bahwa kembalinya Trump akan membawa ‘era keemasan’ bagi Hongaria dan menandai ‘kehancuran’ demokrasi liberal.

Mungkin terdengar aneh, tapi gaya kepemimpinan Orbán memang menjadi inspirasi bagi kelompok konservatif di Amerika Serikat. Mereka melihat Hongaria sebagai model negara sayap kanan dengan imigrasi yang lebih ketat, regulasi yang minim, dan penghapusan batasan demokrasi yang dianggap merepotkan.

Kedekatan Orbán dan Trump bukan rahasia lagi. Orbán bahkan beberapa kali mengunjungi resor mewah Trump di Florida. Ia juga memuji pendekatan Trump terhadap Vladimir Putin dalam konflik Ukraina.

Strategi ‘Tidak Akan Kalah Lagi’

Setelah menjadi Perdana Menteri pada tahun 1998, Orbán mengalami kekalahan yang tak terduga empat tahun kemudian. Sejak saat itu, ia bersumpah ‘tidak akan pernah kalah lagi’ dan mulai merencanakan transformasi politik Hongaria.

Kim Lane Scheppele, seorang profesor dari Princeton yang pernah bekerja di Mahkamah Konstitusi Hongaria, menjelaskan bahwa saat tidak berkuasa, Orbán dan sekutunya menciptakan kerangka hukum untuk mengkonsolidasikan otoritas. Kerangka ini kemudian diimplementasikan dengan cepat setelah partai Fidesz pimpinan Orbán meraih mayoritas dua pertiga pada tahun 2010.

Uni Eropa bahkan telah menyatakan Hongaria di bawah Orbán sebagai ‘otokrasi elektoral’.

Mengubah Sistem Hukum: Ala Hongaria

Salah satu langkah awal Fidesz yang paling berpengaruh adalah menekan independensi peradilan. Pada tahun 2012, pemerintah Orbán menurunkan usia pensiun wajib hakim, yang mengakibatkan pemberhentian hampir 300 hakim senior. Posisi-posisi yang kosong kemudian diisi oleh orang-orang yang dekat dengan Fidesz.

Meskipun Trump tidak bisa mengubah wajah peradilan secara sepihak, ada paralel yang jelas dengan Orbán. Trump telah lama mengupayakan peradilan yang konservatif. Pada masa jabatan pertamanya, ia menominasikan tiga dari sembilan anggota Mahkamah Agung AS saat ini, memberikan mayoritas super kepada kaum konservatif.

Konsolidasi Kekuatan Politik: Cara Orbán

Langkah pertama Orbán setelah kembali berkuasa adalah menulis ulang konstitusi Hongaria dan merombak undang-undang pemilu. Tujuannya? Memastikan partainya memiliki proporsi legislator yang lebih besar di parlemen.

Akibat perubahan tersebut, partai Orbán telah memenangkan mayoritas dua pertiga dalam setiap pemilihan sejak 2010, meskipun hanya menerima sekitar 44% suara. Di Hongaria, partai, bukan pemilih, yang memilih kandidat untuk kursi di parlemen. Sistem ini memberikan Orbán kekuatan besar dalam membentuk pemerintahan.

Orbán mendefinisikan partainya sebagai perwujudan identitas Hongaria sejati, sementara mencap saingannya sebagai tidak patriotik dan melayani kepentingan asing. Hal ini mirip dengan Trump, yang menggunakan retorika gelap terhadap lawan-lawan politiknya.

Mendekati Diktator: Pola yang Mengkhawatirkan

Evolusi Orbán menjadi seorang otokrat terjadi paralel dengan transformasi lain: kedekatannya dengan Rusia, Cina, dan otokrasi lainnya.

Trump juga memiliki sejarah panjang berbicara positif tentang otokrat, terutama Putin. Ia bahkan pernah memuji invasi Putin ke Ukraina sebagai ‘brilian’.

Pelajaran dari Hongaria: Waspadai Otokratisasi!

Zsuzsanna Szelényi, seorang anggota pendiri Fidesz, mengatakan bahwa perbedaan politik dan ekonomi mendasar antara Hongaria dan AS akan mempersulit terjadinya perebutan politik yang komprehensif di AS. Namun, ia memperingatkan bahwa transformasi Hongaria di bawah Orbán harus menjadi peringatan.

‘Jika otokratisasi dimulai, itu akan terus berlanjut seperti bola salju,’ katanya. ‘Itu bukanlah sesuatu yang berhenti – itu adalah sebuah proses.’

About The Author

Putri Siregar

Putri adalah lulusan Sarjana Ilmu Media dari Universitas Brawijaya Malang. Ia sangat tertarik pada tren mode, musik, dan film, dan senang berbagi pengetahuannya. Putri juga seorang ilustrator berbakat dan sering menyertakan ilustrasi karyanya dalam artikelnya. Ia adalah penggemar film dan konser. Saat ini, Putri juga menulis artikel freelance untuk Mega Kancah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top