Pernah gak sih kamu ngerasa kesel kalau acara molor karena nungguin pejabat dateng? Atau liat iring-iringan mobil pejabat yang bikin macet? Nah, seorang profesor dari Yogyakarta lagi sorotin masalah ini nih! Beliau bilang, protokol pejabat yang ada sekarang udah gak relevan dan bikin ribet. Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Poin-poin Penting Artikel Ini:
- Seorang profesor UMY menyerukan reformasi protokol pejabat.
- Protokol yang ada bikin acara telat karena pejabat harus datang paling akhir.
- Aturan ini dianggap gak efisien dan gak sesuai dengan prinsip disiplin.
- Viral video iring-iringan mobil pejabat yang arogan memicu perdebatan.
- Pentingnya fleksibilitas dan manajemen waktu dalam protokol.
Protokol Pejabat: Bikin Acara Jadi Molor?
Profesor Ulung Pribadi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) baru-baru ini bikin gebrakan. Beliau menyuarakan perlunya revisi Peraturan Pemerintah (PP) tentang Protokol. Kenapa? Karena aturan yang mengharuskan pejabat tinggi datang paling akhir dan pulang paling awal seringkali bikin acara jadi molor. Padahal, di era serba cepat ini, waktu itu sangat berharga, guys!
Menurut profesor Ulung, aturan dalam PP Nomor 56 Tahun 2019, yang merupakan perubahan dari PP Nomor 39 Tahun 2018, ini justru bertentangan dengan prinsip efisiensi dan produktivitas. Bayangin aja, semua orang udah siap, eh harus nungguin pejabat yang baru dateng. Kan gak lucu!
Pejabat Harus Jadi Contoh Disiplin
Selain bikin acara molor, profesor Ulung juga menyoroti bahwa aturan ini gak mencerminkan nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab. Sebagai pemimpin, pejabat negara seharusnya jadi contoh yang baik. Datang paling akhir bukan berarti paling penting, tapi justru menunjukkan kurangnya disiplin waktu. Setuju?
Beliau juga menambahkan bahwa protokol yang kaku ini bisa menghambat kelancaran agenda pemerintah yang butuh koordinasi cepat. Jadi, revisi protokol ini bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal efektivitas kerja pemerintah.
Viral Iring-iringan Mobil Pejabat yang Arogan
Pemicu munculnya seruan reformasi ini adalah sebuah video viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan iring-iringan mobil pejabat dengan plat RI 36 yang dikawal dengan arogan oleh petugas. Salah satu petugas bahkan terlihat dengan tidak sabar menyuruh taksi menepi. Waduh, kelakuan seperti ini jelas bikin netizen geram. Banyak yang mengecam arogansi petugas pengawal dan ketidakpedulian terhadap pengguna jalan lain.
Pihak kepolisian pun langsung bertindak dengan memberi peringatan keras kepada petugas yang bersangkutan. Raffi Ahmad, yang ternyata pemilik mobil dengan plat RI 36, juga ikut mengklarifikasi bahwa ia tidak berada di dalam mobil tersebut saat kejadian. Mobil tersebut sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya setelah mengantar dokumen penting.
Saatnya Protokol yang Lebih Fleksibel
Dari kejadian ini, kita bisa melihat bahwa protokol yang kaku dan tidak fleksibel justru bisa menimbulkan masalah. Oleh karena itu, profesor Ulung menyarankan agar revisi protokol lebih mengutamakan fleksibilitas dan manajemen waktu sesuai kebutuhan acara. Bukan lagi soal siapa yang paling tinggi jabatannya. Ini semua demi Indonesia yang lebih baik dan efisien!
Tabel: Perbandingan Protokol Lama dan Usulan Baru
| Aspek | Protokol Lama | Usulan Baru |
|---|---|---|
| Kedatangan Pejabat | Pejabat tertinggi datang terakhir | Fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan acara |
| Keberangkatan Pejabat | Pejabat tertinggi berangkat pertama | Fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan acara |
| Fokus | Jabatan dan Pangkat | Efisiensi dan Manajemen Waktu |
| Dampak | Acara sering molor, kurang disiplin | Acara lebih tepat waktu, lebih disiplin |
Semoga dengan adanya reformasi protokol ini, acara-acara resmi di Indonesia bisa berjalan lebih lancar dan efisien ya, guys! Jangan sampai kita ketinggalan gara-gara nungguin pejabat.



