- Mengapa AS kembali fokus ke Asia?
- Kekuatan ekonomi dan militer Tiongkok saat ini.
- Kerentanan dalam ekonomi Tiongkok yang bisa dimanfaatkan.
- Strategi AS untuk menantang dominasi Tiongkok.
AS Kembali Fokus ke Asia: Ada Apa Gerangan?
Pada tahun 2011, Presiden AS Barack Obama sempat mencanangkan program “Pivot to Asia”. Sayangnya, konflik di Afghanistan dan Ukraina membuat rencana ini terbengkalai. Kini, Menteri Pertahanan Pete Hegseth kembali menegaskan komitmen AS untuk fokus ke Tiongkok.
Banyak yang bertanya, apakah AS tidak terlambat? Tiongkok sudah jauh berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, justru di saat inilah muncul celah dalam strategi ekonomi Tiongkok yang bisa dimanfaatkan.
Tiongkok: Kekuatan Ekonomi dan Militer yang Mengkhawatirkan
Tidak bisa dipungkiri, Tiongkok telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi dan militer yang disegani. Sejak awal tahun 2000-an, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sangat pesat, bahkan menjadi satu-satunya negara yang mampu menyaingi AS.
Sektor manufaktur Tiongkok juga sangat kuat, menyumbang hampir sepertiga dari kapasitas global. Belum lagi kemajuan teknologi AI (Artificial Intelligence) yang membuat AS khawatir akan ketertinggalannya.
Strategi Ekonomi Internasional Tiongkok: BRI dan Yuan Digital
Keberhasilan Tiongkok menjadi negara adidaya juga didukung oleh strategi ekonomi internasional yang agresif. Melalui Belt and Road Initiative (BRI), Tiongkok menginvestasikan surplus devisanya dalam proyek infrastruktur di negara-negara berkembang.
Selain itu, Tiongkok juga berupaya untuk menginternasionalkan mata uang Yuan sebagai alternatif dari Dolar AS. Meskipun belum sepenuhnya berhasil, langkah-langkah seperti liberalisasi akun modal, pembentukan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), dan uji coba Yuan digital terus dilakukan.
Keretakan dalam Ekonomi Tiongkok: Peluang bagi AS?
Namun, di balik gemerlapnya pertumbuhan ekonomi, Tiongkok juga menghadapi masalah serius. Sejak tahun 2020, strategi pertumbuhan yang berfokus pada investasi mulai kehabisan tenaga. Sektor properti mengalami krisis, keuangan pemerintah daerah tertekan, dan deflasi berpotensi memperburuk utang.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat. Kondisi ini diperparah dengan memburuknya hubungan dengan AS dan Eropa sejak tahun 2018.
Strategi AS: Menekan Tiongkok di Saat yang Tepat
Melambatnya ekonomi Tiongkok memberikan peluang bagi AS untuk menekan Tiongkok. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan ketergantungan Tiongkok pada investasi asing.
Dulu, Tiongkok menarik ratusan miliar dolar dari investor asing setiap tahun. Sekarang, arus modal asing mulai keluar dari Tiongkok. Hal ini membuat Tiongkok kesulitan untuk menyeimbangkan antara liberalisasi modal dan pembangunan pengaruh di negara berkembang melalui pinjaman.
Pilihan Sulit bagi Tiongkok
Tiongkok menghadapi pilihan sulit. Apakah mereka akan memperlambat atau membatalkan BRI? Namun, sebagian besar pinjaman BRI akan jatuh tempo sebelum tahun 2030, dan sebagian besar peminjam mengalami kesulitan keuangan.
Atau, apakah Tiongkok akan kembali menerapkan kontrol modal untuk mencegah keluarnya investor? Namun, ini akan mengakhiri ambisi Tiongkok untuk menginternasionalkan Yuan.
Kesimpulan: Momen Krusial bagi AS
Momen ini sangat penting bagi AS. Dengan memanfaatkan kerentanan ekonomi Tiongkok, AS dapat menantang dominasi Tiongkok dan mempertahankan posisinya sebagai kekuatan global.
Namun, AS juga perlu berhati-hati. Jika AS terlalu agresif, Tiongkok mungkin akan melakukan tindakan balasan yang bisa memicu konflik yang lebih besar.


