Sebuah keputusan politik yang mengguncang dunia baru saja terjadi! Inggris, Australia, dan Kanada secara resmi mengakui negara Palestina. Langkah berani ini tak pelak memicu amarah besar dari pihak Israel. Apa yang mendasari keputusan mengejutkan dari ketiga negara Commonwealth ini? Simak rangkuman poin-poin pentingnya:
- Inggris, Australia, dan Kanada serentak umumkan pengakuan negara Palestina.
- Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, tegaskan ini langkah menuju perdamaian abadi di Gaza.
- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berang dan nyatakan ‘tidak akan terjadi’.
- Keputusan ini cerminan kekecewaan global terhadap cara Israel menangani perang di Gaza dan perluasan permukiman ilegal.
- Portugal juga dikabarkan menyusul mengakui negara Palestina.
Langkah Berani yang Membuat Israel Murka
Dunia internasional digemparkan dengan pengakuan resmi negara Palestina oleh tiga negara Commonwealth terkemuka: Inggris, Australia, dan Kanada. Pengumuman yang dilakukan serentak pada hari Minggu ini sontak membuat Israel geram bukan kepalang. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan tegas menyatakan bahwa pembentukan negara Palestina “tidak akan terjadi”.
Langkah diplomatik yang terkoordinasi ini bukan tanpa alasan. Ketiga negara sekutu lama ini menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap cara Israel menjalankan perangnya di Gaza. Selain itu, ekspansi permukiman ilegal di Tepi Barat yang terus berlanjut juga menjadi sorotan tajam.
Inggris Jadi Motor Penggerak
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menjadi salah satu tokoh kunci di balik keputusan ini. Ia menyatakan bahwa pengakuan negara Palestina adalah bagian dari upaya untuk mengakhiri konflik di Gaza dan mendorong perdamaian yang langgeng antara Israel dan Palestina. Pernyataan ini disampaikan meskipun ada penolakan keras dari Amerika Serikat dan Israel.
“Hari ini, untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian dan solusi dua negara, saya nyatakan dengan jelas sebagai perdana menteri negara besar ini bahwa Inggris secara resmi mengakui negara Palestina. Kami mengakui negara Israel lebih dari 75 tahun yang lalu sebagai tanah air bagi orang-orang Yahudi. Hari ini kami bergabung dengan lebih dari 150 negara yang juga mengakui negara Palestina.”
– Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris
Starmer menekankan bahwa langkah ini bukanlah bentuk hadiah kepada Hamas, kelompok yang bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober 2023. Namun, ia ingin mengembalikan harapan perdamaian bagi kedua belah pihak.
Reaksi Keras dari Israel dan Hamas
Tak butuh waktu lama, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan tanggapan pedas. Ia mengkritik keras keputusan ketiga negara tersebut, menyebutnya sebagai “hadiah” bagi Hamas. Netanyahu bersikeras bahwa negara Palestina tidak akan pernah terbentuk di sebelah barat Sungai Yordan.
Di sisi lain, Hamas menyambut baik keputusan ini. Mereka menganggapnya sebagai hasil yang pantas dari perjuangan dan pengorbanan rakyat Palestina. Hamas juga menyerukan komunitas internasional untuk mengisolasi Israel.
Sejarah Panjang dan Implikasinya
Pengakuan negara Palestina oleh Inggris, Australia, dan Kanada membawa kita kembali ke sejarah panjang hubungan kedua negara. Inggris dan Prancis memiliki peran historis yang signifikan di Timur Tengah setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman. Inggris pernah menjadi kekuatan penguasa di wilayah yang kini dikenal sebagai Palestina, serta mencetuskan Deklarasi Balfour pada tahun 1917 yang mendukung pembentukan “rumah nasional bagi orang Yahudi”. Namun, bagian kedua dari deklarasi tersebut, yang menjamin hak-hak sipil dan agama rakyat Palestina, seringkali terabaikan.
Para ahli menilai, pengakuan ini memiliki bobot simbolis dan historis yang kuat. Namun, tanpa dukungan Amerika Serikat, perubahan signifikan di lapangan mungkin masih sulit terwujud. Husam Zomlot, kepala perwakilan Palestina di Inggris, bahkan menyebut langkah ini sebagai upaya “memperbaiki kesalahan era kolonial”.
Pergeseran Diplomatik dan Kompleksitas Masalah
Inggris sendiri selama puluhan tahun mendukung negara Palestina yang merdeka berdampingan dengan Israel. Namun, mereka selalu menekankan bahwa pengakuan harus datang sebagai bagian dari rencana perdamaian yang komprehensif. Kekhawatiran pemerintah Inggris semakin meningkat melihat solusi dua negara semakin sulit dicapai.
Situasi kemanusiaan di Gaza yang memburuk akibat serangan Israel, termasuk jutaan orang terlantar dan krisis kemanusiaan yang parah, semakin mendorong negara-negara Barat untuk mengambil sikap tegas. Laporan independen PBB yang menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza, meskipun ditolak Israel, juga menambah tekanan diplomatik.
Perluasan permukiman Israel di Tepi Barat, yang oleh sebagian besar dunia dianggap ilegal, juga menjadi batu sandungan besar. Langkah Inggris, Australia, dan Kanada ini diharapkan dapat menjaga agar tujuan solusi dua negara tetap relevan dan hidup.
Fakta Penting Seputar Pengakuan Negara Palestina:
| Negara | Tanggal Pengakuan (Perkiraan) | Keterangan |
|---|---|---|
| Inggris | Minggu | Bagian dari upaya perdamaian, bukan hadiah untuk Hamas. |
| Australia | Minggu | Bersama Inggris dan Kanada tunjukkan kekecewaan pada Israel. |
| Kanada | Minggu | Sikap konsisten terhadap hak Palestina. |
| Portugal | Minggu | Menyusul pengakuan dari tiga negara lainnya. |
| Prancis | Akan diumumkan di Sidang Umum PBB | Anggota tetap Dewan Keamanan PBB, langkah penting. |
Meskipun reaksi Israel sangat keras, langkah pengakuan negara Palestina oleh negara-negara besar ini dipandang sebagai langkah maju yang signifikan. Ini menunjukkan adanya pergeseran pandangan internasional dan peningkatan tekanan agar konflik Israel-Palestina dapat segera menemukan solusi yang adil dan permanen.
Sumber:


