Amerika Serikat dan China, dua negara adidaya yang tak terpisahkan namun kerap bersitegang, kembali mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi. Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan akan saling bertatap muka dalam beberapa minggu mendatang, sebuah langkah yang santer dikabarkan akan membahas isu-isu krusial mulai dari masa depan TikTok hingga penyelesaian konflik global. Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk meredakan ketegangan dan mencari titik temu di tengah perbedaan pandangan dunia yang tajam.
Berikut adalah poin-poin penting yang akan dibahas dalam pertemuan monumental ini:
- Perjanjian TikTok: Nasib aplikasi populer ini di Amerika Serikat menjadi salah satu agenda utama.
- Isu Perdagangan: Negosiasi lanjutan untuk mengatasi defisit perdagangan dan hambatan tarif.
- Perang Ukraina: Potensi peran China dalam mencari solusi damai.
- Keterlibatan Investor Amerika di China: Trump menuntut lingkungan bisnis yang lebih adil.
Pertemuan Puncak yang Dinanti: Trump dan Xi Saling Bertukar Sapa di Panggung Global
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan secara blak-blakan bahwa dirinya akan bertemu dengan pemimpin tertinggi China, Xi Jinping. Pertemuan ini rencananya akan digelar di Korea Selatan dalam beberapa minggu ke depan, menyusul perhelatan KTT APEC. Lebih lanjut, Trump juga mengisyaratkan akan melakukan kunjungan balasan ke China di awal tahun depan. Kabar ini muncul setelah keduanya melakukan panggilan telepon yang cukup panjang, sebuah sinyal positif di tengah hubungan yang seringkali bergejolak antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia.
Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan optimismenya terhadap perkembangan pembicaraan. Ia menyebut bahwa pertemuan dengan Xi akan menghasilkan kemajuan signifikan, terutama terkait persetujuan kesepakatan TikTok di Amerika Serikat. Trump bahkan sesumbar bahwa investor Amerika sudah siap menggarap aplikasi fenomenal tersebut. Namun, detail mengenai kepemilikan algoritma TikTok yang krusial masih menjadi misteri, mengingat adanya pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh Beijing.
TikTok di Persimpangan Jalan: Kesepakatan Bisnis atau Ancaman Larangan?
Nasib aplikasi TikTok di Amerika Serikat memang menjadi salah satu isu paling hangat dalam hubungan kedua negara. Pemerintah Trump berulang kali mengancam akan melarang TikTok jika perusahaan induknya, ByteDance, tidak menjual saham mayoritasnya kepada investor Amerika. Kekhawatiran utama berkisar pada potensi akses data pengguna Amerika oleh pemerintah China, menyusul undang-undang di China yang mewajibkan perusahaan untuk menyerahkan data jika diminta oleh negara.
Meskipun pernyataan resmi dari pemerintah China tidak secara gamblang menyebutkan detail mengenai kunjungan Trump atau kesepakatan akuisisi TikTok, Xi Jinping dilaporkan telah meminta Trump untuk tidak memberlakukan pembatasan perdagangan yang lebih ketat demi menjaga hubungan bilateral tetap harmonis. Di sisi lain, ByteDance sendiri menyatakan apresiasinya terhadap kedua pemimpin dan menyatakan minatnya untuk terus bernegosiasi demi kelangsungan layanan TikTok bagi pengguna di Amerika Serikat.
Pihak Amerika Serikat sebelumnya telah mengklaim adanya kesepakatan kerangka kerja mengenai kepemilikan aplikasi tersebut dalam pembicaraan dagang di Madrid. Trump sendiri, yang kabarnya merasa aplikasi ini membantu kampanyenya, telah beberapa kali memperpanjang tenggat waktu penjualan TikTok.
Intrik di Balik Kesepakatan: Algoritma dan Kedaulatan Data
Salah satu aspek paling kompleks dalam negosiasi TikTok adalah soal kepemilikan algoritma. Algoritma inilah yang menentukan konten apa saja yang muncul di linimasa pengguna, dan merupakan aset teknologi yang sangat berharga. Beijing memiliki aturan ketat terkait ekspor teknologi semacam ini, yang menambah pelik negosiasi.
Seorang analis dari Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, berpendapat bahwa kesepakatan akhir mengenai TikTok belum tercapai. Ia melihat bahwa China membingkai negosiasi sebagai kesepakatan berbasis pasar di bawah hukum China, yang berarti mereka masih memiliki hak veto de facto. Sementara Trump memposisikan dirinya sebagai penentu akhir kesepakatan.
Perdagangan Hingga Perang: Agenda Luas Trump dan Xi
Selain TikTok, percakapan antara Trump dan Xi juga menyentuh berbagai isu penting lainnya. Trump menyebutkan bahwa mereka telah mencapai kemajuan dalam pembahasan mengenai:
- Perdagangan: Mencari solusi untuk hambatan dan tarif yang ada.
- Fentanyl: Upaya penanganan peredaran obat-obatan terlarang yang menjadi perhatian serius di AS.
- Perang Rusia-Ukraina: Potensi peran China dalam mendorong penyelesaian konflik.
Trump sebelumnya sempat mengemukakan bahwa perang di Ukraina bisa berakhir jika negara-negara Eropa memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap China. Namun, ia tidak merinci apakah akan menaikkan tarif terhadap Beijing terkait pembelian minyak dari Moskow, sebagaimana yang telah ia lakukan terhadap India.
| Isu | Perkembangan Terkini |
|---|---|
| Perdagangan | Empat putaran pembicaraan dagang telah dilakukan antara AS dan China sejak Mei hingga September. Tarik ulur tarif dan kontrol ekspor masih terjadi. |
| Fentanyl | AS mengenakan tarif tambahan 20% untuk barang-barang China terkait dugaan kelalaian pengendalian aliran bahan baku opioid. China membalas dengan tarif 10-15% untuk produk pertanian AS. |
| Perang Ukraina | Trump menyatakan potensi campur tangan negara Eropa dalam menekan China terkait perang. |
Perang dagang Trump dengan Beijing telah berdampak signifikan pada petani Amerika, yang kehilangan pasar utama mereka di China. Ekspor pertanian AS ke China dilaporkan anjlok hingga 53% dalam periode Januari-Juli tahun ini.
Namun, harapan tetap ada. Sean Stein, presiden U.S.-China Business Council, berpendapat bahwa jika ada kesepakatan untuk menghapus tarif Fentanyl, Beijing bisa saja mencabut tarif balasan dan kembali melakukan pembelian produk pertanian AS. Hal ini tentunya akan membawa sentimen pasar yang positif dan meringankan beban kemanusiaan akibat krisis fentanyl.
Pertemuan Trump dan Xi ini bukan sekadar obrolan antar pemimpin negara, melainkan sebuah duel strategis yang akan membentuk arah hubungan internasional, perekonomian global, dan bahkan perdamaian dunia di masa mendatang. Seluruh dunia akan menanti hasil dari pertemuan akbar ini.
Sumber:


