Israel kembali melancarkan serangan darat besar-besaran ke Kota Gaza, Selasa (16/9/2025), menimbulkan kekhawatiran baru akan krisis kemanusiaan yang semakin parah di wilayah yang sudah porak-poranda akibat dua tahun konflik. Ribuan warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka, sementara ratusan ribu lainnya masih terjebak di tengah reruntuhan. Serangan ini menambah eskalasi konflik yang telah mengguncang Timur Tengah dan semakin menjauhkan harapan gencatan senjata. Artikel ini merangkum perkembangan terbaru, dampaknya, serta respons internasional terhadap situasi genting ini.
- Israel memulai operasi darat baru di Gaza City, memperparah kondisi warga yang sudah terdesak.
- Ribuan warga Palestina mengungsi, meninggalkan harta benda mereka di tengah jalan.
- Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 65.000 korban jiwa sejak 7 Oktober 2023.
- Uni Eropa berencana menjatuhkan sanksi dan tarif baru terhadap Israel.
- Paus Leo XIV menyerukan gencatan senjata mendesak dan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.
- Spanyol akan membantu mengkompensasi Otoritas Palestina untuk dana yang ditahan Israel.
- Upaya penyelamatan artefak arkeologi bersejarah di Gaza di tengah gempuran serangan.
Kekacauan di Gaza City: Operasi Darat Israel Memasuki Babak Baru
Pasukan Israel mengintensifkan serangan daratnya di Kota Gaza pada hari Selasa, mengancam untuk meluluhlantakkan kota yang sudah hancur lebur akibat hampir dua tahun serangan dan bombardir. Kendaraan yang sarat dengan kasur dan barang-barang lainnya memadati jalan pesisir saat ribuan warga Palestina berupaya mengungsi. Namun, ratusan ribu lainnya masih memilih atau terpaksa bertahan di tengah kondisi yang semakin memburuk.
Militer Israel menyatakan tujuannya adalah untuk “menghancurkan infrastruktur militer Hamas”. Namun, mereka tidak memberikan batas waktu pasti untuk operasi ini, menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berlarut-larut selama berbulan-bulan. Kondisi di Gaza semakin mengerikan, dengan kelangkaan makanan, air, dan layanan medis yang kritis. Banyak warga yang mencoba pindah ke Gaza bagian selatan setelah mendapat imbauan evakuasi penuh dari militer Israel.
Korban Jiwa Terus Berjatuhan: Krisis Kemanusiaan yang Makin Dalam
Pejabat rumah sakit melaporkan bahwa serangan Israel di wilayah Palestina sepanjang malam menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Lebih dari separuh korban tewas berasal dari serangan di Kota Gaza, termasuk seorang anak dan ibunya di kamp pengungsi Shati. Di Gaza tengah, serangan di kamp pengungsi Nuseirat menewaskan tiga orang, termasuk seorang wanita hamil. Di wilayah Muwasi, barat Khan Younis, dua orang tua dan anak mereka tewas ketika tenda mereka dihantam serangan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan angka korban jiwa yang terus meningkat, mencapai 65.062 orang tewas dan 165.697 lainnya luka-luka sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Meskipun data rinci mengenai status korban (warga sipil atau kombatan) tidak selalu tersedia, kementerian tersebut menyatakan bahwa perempuan dan anak-anak merupakan sekitar separuh dari jumlah korban tewas. Situasi ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah, dengan para ahli menyatakan adanya bencana kelaparan di Kota Gaza.
Respons Internasional: Sanksi, Seruan Gencatan Senjata, dan Bantuan Kemanusiaan
Menanggapi eskalasi konflik, Uni Eropa mengumumkan rencana terkerasnya untuk menekan Israel agar mengakhiri perang di Gaza. Rencana ini mencakup peningkatan tarif pada beberapa barang Israel dan pemberlakuan sanksi terhadap 10 pemimpin Hamas, pemukim Israel, dan dua anggota kabinet Netanyahu. Mengingat Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar Israel, langkah ini berpotensi memberikan dampak signifikan pada perekonomian Israel.
Paus Leo XIV turut menyuarakan keprihatinan mendalam, menyampaikan solidaritasnya kepada warga Palestina dan mendesak Israel untuk mematuhi hukum humaniter internasional. Dalam audiensi mingguannya, Paus menyerukan gencatan senjata, pembebasan sandera, solusi diplomatik, dan kepatuhan penuh terhadap hukum humaniter internasional.
Sementara itu, negara-negara lain juga mengambil langkah konkret. Spanyol berencana bekerja sama dengan Norwegia untuk membentuk dana guna membantu mengkompensasi pemerintah Palestina di Tepi Barat atas pendapatan pajak yang ditahan oleh Israel. Di Inggris, 10 anak Palestina yang kritis tiba untuk mendapatkan perawatan medis, menunjukkan adanya upaya bantuan kemanusiaan internasional.
Nasib Arkeologi Terancam
Di tengah kekacauan serangan, kelompok bantuan internasional berjuang keras untuk menyelamatkan ribuan artefak arkeologi bersejarah di Gaza dari kehancuran. Serangan Israel sebelumnya dilaporkan menargetkan sebuah gudang yang menurut militer Israel digunakan Hamas untuk intelijen. Gudang tersebut menyimpan barang-barang hasil ekskavasi selama lebih dari 25 tahun, termasuk temuan dari biara Bizantium abad ke-4. Kelompok bantuan berhasil menegosiasikan penundaan dengan militer Israel untuk memindahkan artefak tersebut ke lokasi yang lebih aman. Namun, artefak-artefak berharga ini masih berada di luar ruangan dan terancam oleh ofensif yang terus meluas.
Perkembangan Penting Lainnya:
| Poin Penting | Detail |
|---|---|
| Jalan Evakuasi Dibuka | Militer Israel membuka rute baru di sepanjang pantai Gaza untuk warga yang menuju selatan, berlaku selama dua hari. Namun, akses internet dan telepon di Gaza utara terputus total akibat serangan Israel. |
| Tindakan Keras Mesir | Menteri Luar Negeri Mesir menegaskan bahwa pengusiran paksa warga Palestina dari Gaza tidak dapat diterima dan menolak rencana “emigrasi sukarela” yang disebut Israel, menyebutnya sebagai “Nakba kedua”. |
| Qatar Mengutuk Serangan | Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam keras ofensif darat Israel, menyebutnya sebagai “perluasan perang genosida” terhadap Palestina. |
| Seruan dari Kelompok Bantuan | Koalisi kelompok bantuan internasional mendesak komunitas global untuk mengambil tindakan tegas menghentikan serangan Israel di Gaza City, menyusul temuan PBB mengenai dugaan genosida oleh Israel. |
Situasi di Gaza terus berkembang pesat, dengan dampak kemanusiaan yang semakin mengerikan dan ketegangan geopolitik yang meningkat. Dunia menahan napas, menanti langkah selanjutnya dari para pihak yang terlibat dan respons komunitas internasional dalam upaya menghentikan kekerasan.
Sumber:


