Banyak yang bilang Indonesia dan Australia itu tetangga dekat, ibarat kata ‘side by side’. Tapi kok rasanya kadang masih aja jauh ya? Mantan Menteri Luar Negeri Australia, Gareth Evans, pernah bilang kalau Australia anggap Indonesia itu mitra paling penting. Tapi, apakah Indonesia juga kasih prioritas yang sama ke Australia? Pertanyaan ini menarik nih, apakah ekspektasi Australia terlalu tinggi, atau Indonesia memang punya banyak agenda luar negeri lain yang lebih besar? Dengan fokus Jakarta yang sudah merambah ke raksasa ekonomi dunia, ditambah peran global lewat G20, BRICS, dan urusan masuk OECD, Australia yang sudah dekat secara geografis dan punya hubungan ekonomi yang makin erat, harus siap-siap nih, karena ‘bandwidth’ diplomasi Indonesia makin mendunia. Nah, apakah Indonesia benar-benar butuh label ‘mitra paling strategis’ buat dagang dan investasi sama Australia? Sebenarnya sih nggak perlu. Label itu memang penting secara simbolis, tapi jangan sampai membatasi kita buat manfaatin semua peluang kerja sama yang udah ada. Yang paling penting itu bukan jabatannya, tapi apa yang kita kerjakan bareng. Yuk, kita bedah beberapa cara buat perkuat hubungan Indonesia-Australia:
- Mengapa Indonesia butuh mitra strategis?
- Peran Australia dalam rantai pasok global
- Strategi Asia Australia yang baru
- Kesepakatan bisnis dan investasi antar negara
- Hubungan antar masyarakat: pendidikan dan tenaga kerja
- Tantangan dan solusi untuk masa depan
Indonesia: Menggandeng Investor untuk Pertumbuhan
Buat mencapai target pertumbuhan nasional yang ambisius, Indonesia lagi gencar diversifikasi kemitraan. Tujuannya? Menarik investasi, kumpulin modal buat proyek-proyek penting, dan ngurangin risiko geopolitik di sektor-sektor yang rawan persaingan negara adidaya. Ambil contoh hilirisasi sumber daya mineral. Indonesia aktif ngajak banyak mitra buat gabung di industri bernilai tambah yang dibangun dari kekayaan nikel, bauksit, dan komoditas penting lainnya. Australia, yang juga punya sumber daya melimpah dan aset mineral yang mirip, tetap jadi mitra penting.
Diskusi terbaru antara kedua pemerintah sejak Indonesia jadi tuan rumah G20 di 2022 fokus ke potensi saling melengkapi dalam rantai nilai, terutama produksi baterai dan pasokan energi terbarukan. Di sini, kapasitas pengolahan Indonesia dan bahan baku berkualitas tinggi dari Australia bisa banget jadi sinergi alami.
Australia: Fokus Asia, Melirik Indonesia
Di sisi lain, Australia juga lagi ngatur ulang kebijakan luar negerinya buat memperdalam hubungan sama Asia, khususnya Asia Tenggara. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese, Canberra ngeluarin strategi ekonomi Asia Tenggara 2040 yang keren banget. Dokumen ini nunjukin Indonesia sebagai mitra prioritas dan nyediain jalan buat ngembangin perdagangan, investasi, dan hubungan bisnis-ke-bisnis secara drastis. Menteri Luar Negeri Penny Wong juga berulang kali menekankan kalau ketahanan ekonomi Australia bergantung pada hubungan yang lebih kuat sama tetangganya. Menurutnya, Asia Tenggara itu kunci kemakmuran Australia di masa depan. Para pemimpin bisnis dan pakar Australia juga setuju, hubungan yang kuat sama pasar Asia yang lagi berkembang pesat, termasuk Indonesia, itu krusial buat pertumbuhan ekonomi dan stabilitas jangka panjang Australia.
Perjanjian Dagang yang Mengikat
Indonesia dan Australia udah punya banyak ‘instrumen’ resmi buat bikin kerja sama ekonomi makin erat. Salah satunya yang paling keren itu adalah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Perjanjian ini udah berlaku sejak Juli 2020 dan jadi jantung dari kerangka kerja sama mereka. Buat ngegas implementasi IA-CEPA, kedua pemerintah bikin program andalan namanya Katalis. Program ini ngedorong peluang sektoral di berbagai bidang kayak pertanian, makanan dan minuman, manufaktur canggih, mineral kritis, pendidikan, dan layanan kesehatan. Katalis ini kayak dana pancingan dan fasilitas teknis yang dukung proyek-proyek buat kuatin rantai nilai, promosiin dagang yang inklusif, dan buka akses pasar baru buat bisnis di kedua negara.
Selain itu, ada juga KINETIK (Kemitraan Iklim, Energi Terbarukan dan Infrastruktur Australia-Indonesia) yang jadi wadah kolaborasi transisi energi yang adil. Terus ada KIAT (Kemitraan Indonesia–Australia untuk Infrastruktur) yang bantu perencanaan, pembiayaan, dan reformasi kebijakan infrastruktur buat ningkatin konektivitas. Semua mekanisme ini rutin dievaluasi dan diperbarui di bawah Rencana Aksi Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Australia 2025–2029 biar tetap relevan sama dinamika perdagangan regional, teknologi baru, dan prioritas nasional kedua negara.
Tali Persahabatan Antar Warga
Pilar paling fundamental dari hubungan ini mungkin adalah hubungan antarwarga. Sampai sekarang, hubungan ini masih dinamis dan erat banget. Indonesia itu pengirim pelajar terbanyak dari Asia Tenggara ke Australia, manfaatin institusi pendidikan kelas dunia di sana. Universitas-universitas Australia juga makin banyak buka kampus di Indonesia. Contohnya, Monash University buka kampus di Jakarta tahun 2021, jadi universitas asing pertama di Indonesia. Universitas lain kayak Western Sydney University dan Deakin University juga lagi nyiapin hal serupa. Di sisi tenaga kerja, peluang buat pekerja Indonesia di Australia juga makin banyak, terutama di sektor-sektor yang lagi kekurangan tenaga kerja kayak perawatan lansia, keperawatan, perhotelan, pertanian, dan konstruksi. Skema Visa Mobilitas di bawah IA-CEPA juga nambah jalur buat pekerja terampil Indonesia masuk pasar kerja Australia.
Tantangan yang Masih Ada
Tapi, ada juga nih kekhawatiran yang terus muncul. Banyak orang Australia sekarang nggak lagi belajar Bahasa Indonesia dalam jumlah besar. Jumlah sekolah menengah Australia yang punya pelajaran Bahasa Indonesia turun drastis lebih dari 60% sejak awal 1990-an. Akibatnya, kesalahpahaman tentang perkembangan ekonomi Indonesia yang dianggap lambat masih bikin investor Australia ragu. Walaupun ada dewan bisnis kayak Australia-Indonesia Business Council (AIBC) yang jadi platform pengetahuan berharga, keterlibatan sektor swasta harusnya bisa lebih luas dan dalam lagi buat buka fase kemitraan selanjutnya. Untungnya, peran aktif ‘Business Champion’ Australia untuk Indonesia diakui banget buat ngedorong agenda ini. Namun, Indonesian Business Council (IBC) melihat persepsi pasar dan kepercayaan belum sejalan sama kerangka kerja yang udah ada. Sebagian orang Australia mungkin kurang punya pengetahuan atau minat sama reformasi ekonomi dan peluang di Indonesia. Berita negatif soal kerumitan regulasi dan dinamika politik Indonesia masih jadi penghalang. Perluasan basis pelaku swasta, peningkatan transparansi, dan promosi keberhasilan bilateral yang lebih baik bisa bantu ngatasin ini.
Generasi Muda: Kunci Masa Depan
Yang nggak kalah penting adalah keterlibatan anak muda. Merekalah kunci buat ngubah persepsi dan ngedorong minat. Ngajak bareng pengusaha muda, pemimpin industri kreatif, dan ikon bisnis generasi penerus dari kedua negara, baik lewat pertukaran profesional, advokasi bersama, atau acara bergengsi kayak Indonesia Economic Summit (IES), bisa nyiptain energi baru dalam hubungan ini. Lagian, secara geografis kan udah deket. Indonesia dan Australia udah lebih efektif kerja sama sama negara yang jauh lebih jauh. Narasi yang didorong pasar bisa bantu ubah kedekatan geografis jadi keuntungan ekonomi dan sosial yang nyata.
*) Penulis adalah Wakil Presiden Urusan Internasional, Indonesian Business Council (IBC).
Pandangan dan opini yang diungkapkan di halaman ini adalah milik penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan resmi atau posisi ANTARA News Agency.
Sumber:
- Department of Foreign Affairs and Trade, Australia – IA-CEPA
- Embassy of Australia in Indonesia
- Katalis Indonesia





