- Tulsi Gabbard disetujui Senat AS sebagai Direktur Intelijen Nasional.
- Pernah dikritik karena pandangannya tentang pemimpin otoriter asing.
- Berjanji untuk memfokuskan kembali komunitas intelijen AS.
- Didukung oleh Donald Trump.
Tulsi Gabbard: Dari Kontroversi Menuju Kursi Kekuasaan
Senat AS baru saja menyetujui pengangkatan Tulsi Gabbard sebagai Direktur Intelijen Nasional dengan perolehan suara 52-48. Keputusan ini tentu saja menuai berbagai reaksi, mengingat rekam jejak Gabbard yang penuh kontroversi. Dulu, ia sempat dikritik karena dianggap terlalu dekat dengan pemimpin-pemimpin otoriter dari negara lain dan kerap menyebarkan teori konspirasi.
Namun, dengan dukungan dari Presiden Donald Trump dan beberapa anggota Senat, Gabbard akhirnya berhasil menduduki posisi penting ini. Hanya satu anggota Partai Republik, Mitch McConnell dari Kentucky, yang menolak pencalonannya.
Janji Reformasi di Tubuh Intelijen AS
Usai dilantik, Gabbard langsung memberikan pernyataan yang cukup keras. Ia berjanji akan “memfokuskan kembali komunitas intelijen” AS. Ia juga mengulangi pernyataan Trump bahwa badan intelijen AS selama ini telah digunakan sebagai alat politik.
“Rakyat Amerika sudah kehilangan kepercayaan terhadap komunitas intelijen. Mereka melihat bagaimana badan ini dipersenjatai dan dipolitisasi, padahal seharusnya fokus pada keamanan nasional,” ujarnya. Gabbard menambahkan bahwa ia akan berupaya mengembalikan fokus komunitas intelijen demi keselamatan dan kebebasan rakyat Amerika.
Trump sendiri menyebut Gabbard sebagai sosok yang memiliki keberanian dan patriotisme luar biasa.
Kontroversi yang Mewarnai Perjalanan Karir Gabbard
Sebelum menduduki jabatan ini, Gabbard sempat menjalani sidang konfirmasi yang cukup menegangkan. Anggota Partai Republik dan Demokrat mencecarnya dengan berbagai pertanyaan terkait pandangannya yang dianggap simpatik terhadap Rusia dan pembelaannya terhadap Bashar al-Assad, pemimpin Suriah yang kontroversial.
Sebagai informasi tambahan, Gabbard pernah bertemu langsung dengan Assad pada tahun 2017, saat pemimpin Suriah itu masih berada di bawah sanksi AS. Ia juga menolak menyebut Edward Snowden, pembocor rahasia intelijen AS, sebagai “pengkhianat”. Meski begitu, Gabbard menegaskan bahwa ia tidak bersimpati pada Assad dan menarik kembali pandangannya tentang invasi Rusia ke Ukraina.
Mengawasi 18 Badan Intelijen: Tugas Berat Menanti
Sebagai Direktur Intelijen Nasional, Gabbard akan memimpin 18 badan intelijen AS, termasuk CIA dan FBI. Lebih dari 70.000 orang bekerja di bawah pengawasannya, bertugas mengumpulkan dan melindungi rahasia negara yang paling penting. Ini adalah tugas yang sangat berat, mengingat Gabbard dikenal sebagai kritikus keras komunitas intelijen AS.
Lisa Murkowski, senator Partai Republik dari Alaska, menyatakan bahwa meskipun ada kekhawatiran terhadap beberapa pandangan Gabbard di masa lalu, ia percaya bahwa Gabbard akan membawa pemikiran independen dan pengawasan yang diperlukan dalam peran barunya.
Setelah pemungutan suara konfirmasi Gabbard, Senat langsung melanjutkan ke pemungutan suara prosedural untuk nominasi Robert F. Kennedy Jr. sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.
Apa yang Bisa Kita Harapkan?
Pengangkatan Tulsi Gabbard sebagai Direktur Intelijen Nasional AS tentu saja menjadi babak baru dalam dunia intelijen Amerika. Dengan pandangan yang berbeda dan janji reformasi, menarik untuk melihat bagaimana ia akan memimpin komunitas intelijen AS ke depannya. Apakah ia akan berhasil mewujudkan perubahan yang dijanjikan? Waktu yang akan menjawab.


