- Pertemuan Trump dan Carney tegang karena perbedaan pandangan soal tarif.
- Trump sempat menawarkan Kanada untuk menjadi negara bagian AS ke-51, tapi ditolak mentah-mentah oleh Carney.
- Kedua pemimpin sepakat untuk terus berdiskusi mencari solusi, tapi belum ada tanda-tanda titik terang.
Ketegangan Memuncak di Gedung Putih
Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Oval Office Gedung Putih pada hari Selasa lalu berlangsung panas. Kedua pemimpin menunjukkan perbedaan yang tajam terkait perang dagang yang telah merusak kepercayaan antara kedua negara selama beberapa dekade.
Trump dengan blak-blakan menanyakan apakah ada sesuatu yang bisa dikatakan Carney untuk mencabut tarif setinggi 25% terhadap Kanada. Trump menjawab dengan singkat: “Tidak.”
Carney mengakui bahwa retorika tentang tarif tidak akan cukup untuk menggoyahkan Trump, dan mengatakan bahwa “ini adalah diskusi yang lebih besar.”
Kanada Bukan untuk Dijual!
Salah satu momen paling menarik adalah ketika Trump melontarkan ide untuk menjadikan Kanada sebagai negara bagian AS ke-51. Sontak, Carney dengan tegas menolak tawaran tersebut. “Kanada tidak untuk dijual!” ujarnya.
Trump pun membalas dengan mengatakan, “Waktu akan menjawab.” Wah, kira-kira apa maksudnya, ya?
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ketegangan antara AS dan Kanada ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Trump memberlakukan tarif tinggi untuk produk baja dan aluminium dari Kanada, yang membuat Kanada meradang. Kanada merasa diperlakukan tidak adil oleh AS, padahal selama ini kedua negara memiliki hubungan dagang yang sangat erat.
Selain itu, Trump juga seringkali meremehkan Kanada dalam berbagai kesempatan. Hal ini tentu saja membuat rakyat Kanada marah dan bersatu mendukung Carney untuk melawan kebijakan Trump.
Mencari Jalan Tengah di Tengah Perbedaan
Meskipun pertemuan tersebut diwarnai ketegangan, kedua pemimpin sepakat untuk terus berdiskusi mencari solusi terbaik. Carney mengatakan bahwa ada peluang untuk negosiasi positif, meskipun akan ada “zig dan zag” di sepanjang jalan.
Carney juga menekankan nilai perusahaan dan pabrik Kanada bagi produsen mobil AS, sambil menekankan bahwa tidak adil untuk berasumsi bahwa satu pertemuan dapat menyelesaikan semua perbedaan.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Perang dagang antara AS dan Kanada ini tentu saja berdampak bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Kenaikan tarif dan ketidakpastian ekonomi dapat mengganggu rantai pasokan dan investasi. Oleh karena itu, Indonesia perlu mewaspadai perkembangan situasi ini dan mengambil langkah-langkah antisipasi yang diperlukan.
Intinya…
Pertemuan antara Trump dan Carney menunjukkan bahwa hubungan antara AS dan Kanada sedang tidak baik-baik saja. Perang dagang dan perbedaan pandangan yang tajam menjadi tantangan yang berat bagi kedua negara. Kita tunggu saja, bagaimana kelanjutan dari kisah ini!


