Bahasa Namblong Papua di Ujung Tanduk? Begini Cara Anak Muda Melestarikannya!

Bahasa Namblong, salah satu kekayaan Papua, kini menghadapi ancaman kepunahan. Hanya segelintir orang yang masih fasih menggunakannya. Namun, di tengah tantangan ini, muncul secercah harapan dari seorang anak muda bernama Vebriani Hembring. Ia bertekad untuk menghidupkan kembali bahasa leluhurnya dan menyelamatkannya dari kepunahan.

  • Bahasa Namblong terancam punah karena sedikitnya penutur.
  • Vebriani Hembring berinisiatif melestarikan bahasa ini melalui berbagai cara kreatif.
  • Peran Injo Yamo sebagai pusat pembelajaran budaya Namblong sangat penting.
  • Sejarah kelam masa lalu turut memengaruhi hilangnya penutur bahasa Namblong.
  • Pemerintah dan masyarakat perlu bahu-membahu melestarikan bahasa daerah di Papua.

Bahasa Namblong: Warisan yang Terancam

Bahasa adalah identitas suatu suku. Tanpa bahasa, budaya dan tradisi bisa perlahan menghilang. Sayangnya, inilah yang sedang terjadi pada bahasa Namblong di Papua. Vebriani Hembring, seorang wanita berusia 24 tahun asal Lembah Grime Nawa, Papua, merasakan betul ancaman ini.

Menurutnya, jika tidak ada upaya serius, bahasa Namblong bisa lenyap dalam beberapa tahun ke depan. “Mungkin, di tahun 2030, tidak akan ada lagi yang bisa berbahasa Namblong. Sekarang saja, penuturnya hanya sekitar 20% dari total populasi suku kami, dan itu pun kebanyakan orang tua,” ujarnya saat berdiskusi di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Injo Yamo.

Injo Yamo: Sekolah Budaya di Tengah Hutan Papua

PKBM Injo Yamo, yang berarti “sekolah budaya” dalam bahasa Namblong, adalah wadah yang digagas oleh Organisasi Perempuan Adat (ORPA) Suku Namblong. Di bawah bimbingan Rosita Tecuari (42), pusat ini menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda Namblong untuk belajar tentang budaya dan bahasa mereka.

Dengan 40 siswa berusia 4 hingga 15 tahun, Injo Yamo berusaha menjembatani generasi dan mewariskan kekayaan budaya Namblong kepada generasi muda. Hembring, sebagai salah satu pengajar, memiliki cara unik untuk memperkenalkan bahasa Namblong kepada anak-anak.

Merajut Bahasa Lewat Noken

Salah satu cara Hembring melestarikan bahasa adalah dengan melibatkan anak-anak dalam proses pembuatan noken, tas tradisional Papua. Bagi lulusan SMA ini, proses membuat noken dari serat anggrek melibatkan banyak kosakata bahasa Namblong yang bisa diajarkan kepada generasi muda.

“Saat kami berkumpul membuat noken, kami bisa belajar bahasa. Mulai dari memilih bahan dari tanaman hingga membuat simpul-simpul noken,” jelasnya. Selain noken, bahasa juga diajarkan melalui puisi dan lagu, seperti lagu berjudul Nyanyian Burung Cendrawasih yang dinyanyikan oleh Hembring.

Kenangan Pahit yang Memudarkan Bahasa

Namun, upaya pelestarian bahasa Namblong tidaklah mudah. Rosita Tecuari menceritakan bahwa ada masa lalu kelam yang turut memengaruhi hilangnya penutur bahasa Namblong. Kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM) yang diterapkan di Papua dari tahun 1978 hingga 1998 meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Namblong.

Untuk bertahan hidup, banyak anggota suku yang mulai meninggalkan bahasa ibu mereka dan beralih ke bahasa Indonesia. Anak-anak suku yang lahir dan tumbuh dalam kondisi represif lebih banyak diajarkan bahasa Indonesia sebagai bagian dari strategi bertahan hidup. Identitas budaya tertentu dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap negara.

“Dulu, saat DOM, orang tua yang tidak bisa berbahasa Indonesia dipaksa menggunakan bahasa Indonesia baku. Jika tidak, mereka dipukul dengan popor senapan. Bagaimana mungkin mereka bisa mengajarkan bahasa adat kami kepada anak-anak mereka?” kenang Tecuari.

Bahasa Daerah Lain Juga Terancam

Selain bahasa Namblong, bahasa-bahasa daerah lain di Papua juga menghadapi risiko kepunahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Bahasa Papua dari tahun 2006 hingga 2019, empat bahasa daerah telah dinyatakan punah: bahasa Tandia, bahasa Air Matoa, bahasa Mapia, dan bahasa Mawes.

Dari total 428 bahasa daerah di Papua, hanya dua yang memiliki lebih dari seribu penutur, yaitu bahasa Dani di Papua Pegunungan dan bahasa Mee di Papua Tengah. Ini adalah sinyal darurat yang membutuhkan tindakan nyata.

Upaya yang Sudah Dilakukan

Balai Bahasa Papua, bekerja sama dengan para penutur bahasa adat, telah menyusun buku pelajaran bahasa Namblong agar siswa dapat belajar bahasa ibu mereka sejak dini. Buku ini disusun pada tahun 2013 dengan melibatkan ahli bahasa dari Australia berdasarkan materi yang dikumpulkan dari penutur asli.

Buku ini telah diperkenalkan kepada siswa di Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tab Byab Jayapura sejak tahun 2015. Pelajaran bahasa Namblong diajarkan setiap hari Kamis dan melibatkan pelajaran pengucapan dan bernyanyi.

Saatnya Bergerak Bersama

Namun, upaya ini saja tidak cukup. Jumlah buku pelajaran yang terbatas menjadi kendala utama dalam proses pengajaran bahasa daerah. Pemerintah daerah perlu mencetak buku dalam jumlah yang memadai dan melibatkan penutur asli agar pengajaran bahasa dapat dilakukan secara efektif.

Tanpa langkah konkret, lebih banyak lagi bahasa daerah di Papua yang akan punah. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga bahasa daerah tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Mari kita selamatkan bahasa Namblong dan bahasa-bahasa daerah lainnya di Papua sebelum terlambat!

Tabel: Jumlah Penutur Bahasa Daerah di Papua

BahasaJumlah Penutur (Perkiraan)
Dani> 1000
Mee> 1000
Namblong(Sulit Dipastikan, <20% Populasi Suku)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this article

Back To Top