Konflik di Gaza kembali memanas dengan serangan udara Israel yang dilaporkan menewaskan setidaknya 14 warga Palestina di Kota Gaza pada Sabtu (21/9/2025). Peristiwa ini terjadi di tengah persiapan beberapa negara Eropa untuk mengakui negara Palestina, menambah lapisan kompleksitas pada situasi yang sudah genting. Ribuan warga Palestina terpaksa mengungsi dari kota yang hancur akibat perang dua tahun terakhir, sementara krisis kemanusiaan semakin parah dengan kelangkaan pangan yang meluas. Di sisi lain, keluarga sandera Israel terus mendesak pemerintah untuk mengakhiri perang.
Gempuran Israel Makin Gencar, Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi
Situasi di Kota Gaza semakin mencekam. Setelah imbauan evakuasi dari militer Israel, ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang kini sebagian besar hancur akibat gempuran bertubi-tubi. Mereka berlarian mencari tempat yang lebih aman di Jalur Gaza bagian selatan, tak jarang hanya dengan membawa barang seadanya. Namun, tak semua bisa pergi. Ribuan lainnya memilih bertahan di kota terbesar di Gaza ini, yang telah porak-poranda akibat perang hampir dua tahun dan kini tengah berjuang melawan kelaparan yang mengintai.
Keluarga Sandera Israel Tuntut Solusi Damai
Sementara di Yerusalem dan Tel Aviv, ribuan warga Israel, termasuk keluarga para sandera yang masih ditahan Hamas, menggelar aksi unjuk rasa. Mereka membawa spanduk besar bertuliskan pesan dalam bahasa Ibrani yang meminta bantuan dan menyerukan diakhirinya perang. Para demonstran menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera bernegosiasi untuk membebaskan para sandera. Salah satu spanduk raksasa bahkan ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump, memohon bantuannya untuk mengakhiri konflik yang telah merenggut banyak nyawa.
Pengakuan Negara Palestina Mengemuka di Tengah Konflik
Di tengah memanasnya serangan Israel, kabar mengejutkan datang dari kancah internasional. Beberapa negara Eropa dilaporkan tengah bersiap untuk mengakui negara Palestina. Uni Eropa, Inggris, Prancis, Kanada, Australia, Malta, Belgia, dan Luksemburg disebut-sebut akan mengambil langkah diplomatik ini saat pertemuan Majelis Umum PBB pekan depan. Portugal bahkan telah menetapkan tanggal pasti, yakni Minggu (22/9/2025), untuk secara resmi mengakui negara Palestina. Langkah ini tentu saja menambah dimensi politik baru pada konflik yang telah berlangsung lama.
Fakta Penting Konflik Israel-Palestina:
- Perang yang telah berlangsung hampir dua tahun ini diklaim telah menewaskan lebih dari 65.000 orang di Gaza.
- Sekitar 90% populasi Gaza terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
- Krisis kemanusiaan semakin memburuk, dengan laporan kelaparan yang meluas, terutama di Kota Gaza.
- Jumlah sandera yang tersisa di Gaza diperkirakan kurang dari setengah dari total awal, dengan hanya sebagian kecil yang diyakini masih hidup.
Korban dari Kalangan Tenaga Medis dan Keluarga Mereka
Tragedi kemanusiaan kembali menyelimuti Gaza. Direktur Rumah Sakit Shifa, Dr. Rami Mhanna, melaporkan bahwa di antara korban tewas serangan terbaru adalah enam anggota keluarganya sendiri setelah rumah mereka dihantam bom pada Sabtu pagi. Ia menyebutkan korban tewas lainnya adalah kerabat dari Direktur Rumah Sakit, Dr. Mohamed Abu Selmiya. Palang Merah Palestina juga melaporkan lima korban tewas lainnya dalam serangan terpisah di dekat Alun-alun Shawa.
Perjuangan Warga Mencari Suaka dan Bantuan yang Terhambat
Militer Israel menyatakan sedang beroperasi untuk melumpuhkan kemampuan militer Hamas dan selalu mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk meminimalkan korban sipil. Namun, di lapangan, cerita yang muncul sangat berbeda. Ribuan warga sipil terus berjuang untuk mengungsi, banyak di antaranya dalam kondisi lemah dan tanpa bekal yang cukup. Rute evakuasi yang dibuka pemerintah Israel seringkali dipenuhi kepadatan kendaraan dan pejalan kaki yang membawa harta benda mereka.
“Tidak ada air, listrik, atau internet. Orang-orang terpaksa pergi tanpa apa-apa,” keluh Seif Abu Oomsan, salah satu pengungsi. “Mereka menargetkan kita dengan hal-hal yang tidak bisa Anda bayangkan, seperti fiksi ilmiah. Mereka menargetkan kita dengan rudal yang belum pernah kita dengar namanya.” Ia menambahkan, “Kita menuju ketidakpastian. Tidak ada yang tahu ke mana mereka akan pergi.”
Bantuan Kemanusiaan Terganjal dan Dirompak
Di tengah situasi yang mengerikan ini, bantuan kemanusiaan pun tak luput dari masalah. UNICEF melaporkan bahwa makanan terapeutik yang seharusnya disalurkan untuk ribuan anak di Gaza telah dijarah dari empat truk miliknya. Orang bersenjata dilaporkan mencegat truk-truk tersebut di luar kompleks UNICEF di Kota Gaza dan merampas makanan di bawah todongan senjata.
“Ini adalah pengiriman penyelamat hidup di tengah pembatasan ketat pengiriman bantuan ke Kota Gaza,” ujar Ammar Ammar, juru bicara UNICEF. Pihak militer Israel mengklaim Hamas bertanggung jawab atas perampokan ini, tuduhan yang dibantah oleh PBB yang menyatakan adanya mekanisme untuk mencegah penyaluran bantuan yang salah.
Tabel Perbandingan Situasi
| Aspek | Situasi Sebelum Serangan (Perkiraan) | Situasi Saat Ini (Perkiraan) |
|---|---|---|
| Jumlah Penduduk Kota Gaza | ~ 1 Juta | Menurun drastis akibat evakuasi dan korban jiwa |
| Kondisi Infrastruktur | Sebagian besar rusak akibat perang | Semakin parah, banyak bangunan hancur total |
| Pasokan Makanan & Air | Krisis pangan sudah terjadi | Kelangkaan parah, ancaman kelaparan meningkat |
| Akses Bantuan Kemanusiaan | Terbatas dan sering terhambat | Sangat terbatas, bahkan ada laporan perampokan |
Angka kematian di Gaza yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza telah melampaui 65.100 orang sejak serangan Hamas yang memicu perang. Data ini dianggap sebagai perkiraan yang andal oleh PBB dan banyak pakar independen.
Sumber: Associated Press, UNICEF





