- Fokus Utama: Pelestarian aksara Bali sebagai identitas budaya.
- Target: Penggunaan aksara Bali di ruang publik dan pemerintahan.
- Strategi: Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku bisnis dan masyarakat adat.
- Alasan: Pariwisata Bali bertumpu pada budaya yang kuat.
Aksara Bali: Identitas yang Harus Dijaga
Gubernur Bali, Wayan Koster, punya perhatian khusus terhadap aksara Bali. Beliau ingin aksara ini tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Kenapa? Karena aksara Bali adalah salah satu identitas penting yang membedakan Bali dari daerah lain.
Dalam acara Bulan Bahasa Bali 2025 di Denpasar, Koster menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penggunaan aksara Bali di berbagai tempat. Mulai dari jalanan, fasilitas umum, sampai kantor pemerintahan.
Kenapa Aksara Bali Penting?
Koster mencontohkan negara-negara seperti China, Jepang, Korea, dan Thailand yang berhasil mempertahankan aksara tradisional mereka. Menurutnya, aksara adalah kunci untuk menjaga identitas budaya. Jika aksara Bali hilang, maka Bali akan kehilangan jati dirinya.
“Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat budaya dan tatanan sosial Bali, karena aksara berfungsi sebagai identitas yang menopang keberadaan Bali,” ujar Koster.
Selain itu, Koster juga menyadari bahwa pariwisata Bali sangat erat kaitannya dengan budaya. Jika budaya Bali kuat, maka pariwisata Bali juga akan semakin maju. Oleh karena itu, pelestarian aksara Bali menjadi sangat penting untuk mendukung sektor pariwisata.
Strategi Jitu: Libatkan Semua Pihak!
Untuk mewujudkan visinya, Koster tidak hanya mengandalkan pemerintah. Beliau juga mengajak pelaku bisnis untuk ikut serta dalam mempromosikan aksara dan budaya Bali. Caranya? Misalnya, dengan menggunakan aksara Bali pada produk atau layanan yang mereka tawarkan.
Selain itu, Koster juga berencana untuk bekerja sama dengan masyarakat adat. Tujuannya adalah agar masyarakat lokal merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab dalam melestarikan aksara Bali.
Dulu Ditunda, Sekarang Digencarkan!
Koster mengakui bahwa selama masa jabatan pertamanya, ia tidak terlalu fokus pada penegakan penggunaan aksara Bali. Hal ini disebabkan oleh tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Namun, kini setelah situasi ekonomi mulai membaik, Koster bertekad untuk lebih serius dalam menjalankan inisiatif ini.
Aksara Bali di Era Digital: Tantangan dan Peluang
Di era digital ini, pelestarian aksara Bali menghadapi tantangan baru. Namun, di sisi lain, teknologi juga memberikan peluang untuk mempromosikan aksara Bali secara lebih luas. Misalnya, dengan membuat aplikasi atau website yang mengajarkan aksara Bali.
Yuk, Lestarikan Aksara Bali!
Aksara Bali adalah warisan budaya yang tak ternilai harganya. Mari kita lestarikan bersama agar generasi mendatang tetap dapat mengenal dan mencintai aksara ini.
Berikut adalah beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan:
- Belajar aksara Bali.
- Menggunakan aksara Bali dalam percakapan sehari-hari.
- Mempromosikan aksara Bali di media sosial.
- Mendukung produk atau layanan yang menggunakan aksara Bali.
Dengan langkah-langkah kecil ini, kita dapat memberikan kontribusi nyata dalam melestarikan aksara Bali.



