Situasi di Gaza semakin memanas! Militer Israel mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar di Kota Gaza, menyusul serangan gencar yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut. Warga sipil diminta segera meninggalkan rumah mereka dan menuju selatan demi keselamatan. Eskalasi ini menambah kekhawatiran akan potensi gencatan senjata yang semakin sulit terwujud di tengah konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Artikel ini akan mengupas tuntas perkembangan terbaru, dampaknya bagi warga sipil, serta respons internasional terhadap situasi genting ini.
Operasi Militer Israel Diperluas, Gaza Bergejolak
Pada Selasa dini hari, langit di atas Gaza City terlihat bergemuruh dengan ledakan besar dan kilatan api yang terlihat dari Israel selatan. Militer Israel mengonfirmasi bahwa operasi militer mereka telah diperluas dan menyasar langsung jantung Kota Gaza. Fokus utama kini adalah pergerakan pasukan dari pinggiran kota menuju pusatnya. Dilaporkan, sekitar 2.000 hingga 3.000 militan Hamas diperkirakan masih berada di Kota Gaza, bersama dengan jaringan terowongan yang mereka gunakan.
Peringatan Evakuasi dan Kepanikan Warga
Militer Israel telah mengeluarkan peringatan tegas kepada penduduk yang masih bertahan di Kota Gaza untuk segera mengungsi ke wilayah selatan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kesulitan besar bagi warga yang mencoba menyelamatkan diri. Jalanan pesisir Gaza dipenuhi oleh kendaraan yang sarat dengan barang-barang perabotan dan pengungsi yang berjalan kaki, mencoba menjauh dari zona pertempuran. Situasi ini diperparah dengan perkiraan angka pengungsi yang berbeda antara pihak militer Israel dan PBB, menciptakan ketidakpastian dan kepanikan yang lebih dalam.
Data PBB menyebutkan lebih dari 220.000 warga Palestina telah mengungsi dari Gaza utara selama sebulan terakhir. Sementara itu, pihak militer Israel memperkirakan sekitar 350.000 orang telah meninggalkan Kota Gaza sebelum operasi ini dimulai, yang setara dengan sepertiga populasi kota sebelum konflik memuncak.
Dampak Kemanusiaan: Korban Berjatuhan dan Rumah Sakit Kewalahan
Serangan bertubi-tubi di Kota Gaza telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Hingga tengah hari, Rumah Sakit Shifa melaporkan telah menerima jenazah 34 orang yang tewas akibat serangan tersebut. Puluhan lainnya dilaporkan terluka dan membutuhkan perawatan medis segera. Direktur Rumah Sakit Shifa, Dr. Mohamed Abu Selmiyah, menggambarkan malam yang sangat berat dengan bombardir yang tak henti-hentinya.
Pihak militer Israel, yang biasanya menuduh Hamas membangun infrastruktur militer di area sipil, belum memberikan komentar langsung mengenai serangan ini. Namun, historisnya, mereka seringkali mengaitkan kerusakan sipil dengan taktik Hamas.
Diplomasi Terjebak: Jendela Waktu Menipis
Di tengah eskalasi militer, harapan untuk gencatan senjata semakin menipis. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengakui adanya ‘jendela waktu yang sangat singkat’ untuk mencapai kesepakatan damai. Kunjungan singkatnya ke Qatar, negara yang berperan sebagai mediator penting, tampaknya tidak banyak mengubah situasi. Qatar sendiri masih berduka atas serangan Israel yang menewaskan anggota Hamas dan seorang pejabat keamanan lokal pekan lalu.
Beberapa negara Arab dan Muslim telah mengecam serangan Israel, namun belum ada tindakan besar yang diambil untuk menekan Israel. Mesir, yang memiliki perjanjian damai dengan Israel, mulai menunjukkan ketidaksabarannya. Presiden Mesir, Abdel-Fattah el-Sissi, bahkan menyebut Israel sebagai ‘musuh’ dalam pidato yang berapi-api di KTT Qatar. Ini adalah pertama kalinya seorang pemimpin Mesir menggunakan istilah tersebut sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1979.
Tuntutan Keluarga Sandera dan Klaim Genosida
Di Yerusalem, keluarga para sandera yang masih ditahan di Gaza menggelar protes di depan kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka mendesak penghentian operasi militer di Kota Gaza, dengan harapan agar anak-anak mereka dapat diselamatkan. Einav Zangauker, ibu dari salah satu sandera, menegaskan bahwa ia hanya memiliki satu tujuan: memulangkan semua sandera dan tentara yang bertugas.
Sementara itu, para ahli independen yang ditugaskan oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB secara mengejutkan mengumumkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza. Pernyataan ini menambah daftar panjang tuduhan internasional terhadap tindakan Israel. Namun, Israel dengan tegas menolak klaim tersebut, menyebut laporan para ahli sebagai ‘terdistorsi dan palsu’.
Perjalanan Perang dan Dampak Jangka Panjang
Konflik ini bermula ketika militan pimpinan Hamas menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sebagian besar sandera telah dibebaskan melalui gencatan senjata dan kesepakatan lainnya. Namun, serangan balasan Israel di Gaza telah menyebabkan korban tewas lebih dari 64.871 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Perkiraan Militer Israel Mengenai Jalannya Operasi
Militer Israel memproyeksikan bahwa operasi mereka akan memakan waktu berbulan-bulan. Grafik militer yang dirilis menunjukkan aspirasi pasukan untuk menguasai seluruh Jalur Gaza, kecuali sebagian kecil wilayah di sepanjang pantai.
| Tanggal | Peristiwa Penting | Estimasi Korban (Gaza) |
|---|---|---|
| 7 Oktober 2023 | Serangan Hamas ke Israel selatan, penyanderaan | – |
| Pasca 7 Oktober 2023 | Serangan balasan Israel, operasi darat | > 64.871 jiwa |
| Sekarang | Operasi militer besar di Kota Gaza | 34 jiwa (laporan awal per siang hari) |
Situasi di Gaza terus berkembang dengan cepat. Tindakan militer Israel dan respons internasional akan terus dipantau dengan seksama, mengingat dampaknya yang sangat besar bagi kemanusiaan.




